Kini, saya memahami bahwa menjadi petugas haji bukan hanya tentang melayani jemaah. Lebih dari itu, Allah sedang mendidik saya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, lebih kuat, dan lebih mampu berserah diri.
Saya juga belajar bahwa pekerjaan apa pun dapat menjadi jalan menuju keberkahan apabila diniatkan sebagai ibadah.
Saya hanyalah seorang wartawan. Tetapi profesi itulah yang mengantarkan saya bertemu dengan kesempatan yang luar biasa.
Karena itu, saya ingin berpesan kepada siapa pun yang membaca kisah ini. Jangan pernah meremehkan profesi yang sedang Anda jalani hari ini.
Jangan pernah merasa kecil karena bekerja di daerah. Jangan pernah minder karena berasal dari kota yang jauh dari pusat pemerintahan. Sebab Allah tidak melihat dari mana seseorang berasal. Allah melihat hati, kesungguhan, kejujuran, dan usaha hamba-Nya.
Saya adalah saksi kecil dari semua itu.
Seorang wartawan dari Kabupaten Sumenep, Madura, yang tidak pernah bermimpi menjadi petugas haji, tetapi justru dipanggil Allah untuk menjadi bagian dari pelayanan ibadah haji tahun 1447 Hijriah.
Kalau hari ini ada yang bertanya kepada saya, “apa yang paling berharga dari seluruh perjalanan ini?”
Jawabannya bukan karena saya berhasil berangkat ke Tanah Suci. Bukan pula karena saya berhasil menjadi petugas haji.
Yang paling berharga adalah keyakinan bahwa pertolongan Allah benar-benar nyata.
Setiap doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan tidak pernah sia-sia. Setiap ujian pasti membawa hikmah. Dan setiap langkah yang diniatkan untuk melayani tamu-tamu Allah akan selalu dijaga oleh-Nya.
Semoga apa yang saya alami menjadi pengingat bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi jika Allah telah berkehendak.
Semoga kisah sederhana ini dapat menjadi penyemangat bagi para wartawan daerah, bagi para petugas pelayanan, bagi anak-anak muda yang sedang berjuang, dan bagi siapa pun yang sedang menanti takdir terbaik dari Allah SWT.
Karena pada akhirnya saya percaya, hidup bukan tentang seberapa hebat kita merencanakan masa depan. Hidup adalah tentang seberapa siap kita menerima rencana terbaik yang telah Allah siapkan.
Dan ketika semua itu terjadi, kita hanya bisa tersenyum, bersyukur, lalu mengucapkan satu kalimat yang menjadi judul perjalanan hidup ini.
Min Haitsu La Yahtasib.
Dari arah yang tidak pernah kita sangka-sangka. (*)





