Tetapi Allah menunjukkan bahwa kesempatan tidak ditentukan oleh tempat seseorang berasal. Allah melihat niat, kesungguhan, dan usaha setiap hamba-Nya.
Karena itu, jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman wartawan daerah, bahkan kepada siapa pun yang memiliki cita-cita menjadi petugas haji, jangan pernah merasa minder. Jangan pernah berpikir bahwa kesempatan itu hanya milik orang-orang tertentu.
Saya adalah bukti bahwa seorang wartawan daerah pun dapat dipercaya menjadi bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji.
Jika Allah berkehendak, jalan itu akan dibuka. Persiapkan diri sebaik mungkin. Belajarlah. Jaga kesehatan. Perkuat kemampuan. Dan yang paling penting, luruskan niat untuk melayani tamu-tamu Allah, bukan untuk mengejar kebanggaan.
Pada akhirnya saya memahami satu hal. Menjadi petugas haji bukanlah tentang seragam yang dikenakan, kartu identitas yang digantung di dada, atau kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci. Semua itu hanyalah fasilitas.
Hakikatnya, menjadi petugas haji adalah tentang keikhlasan melayani. Tentang bagaimana kita mendahulukan kepentingan jemaah daripada kepentingan pribadi. Tentang bagaimana kita tetap tersenyum ketika lelah, tetap berjalan ketika kaki terasa berat, dan tetap bertahan ketika hati sedang diuji.
Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua saya Hj. Nor Hayati dan H. Mundari yang tidak pernah berhenti mendoakan. Kepada istri Rela Al-Hikmahillah dan anak-anak Fatimah Az-Zahra dan Mohammad Abrizam Manaf yang dengan ikhlas merelakan saya bertugas jauh dari rumah. Kepada keluarga besar, para sahabat, rekan-rekan jurnalis di Kabupaten Sumenep, keluarga besar TV9 Nusantara, Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Jurnalis Bintang Sembilan (JB9) Kabupaten Sumenep, serta seluruh keluarga besar Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, khususnya Tusi Media Center Haji, yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan luar biasa ini.
Bagi saya, menjadi Petugas Haji PPIH Arab Saudi Tahun 2026 bukan sekadar pengalaman kerja. Ini adalah perjalanan hidup yang membentuk cara saya memandang pengabdian, kesabaran, dan pertolongan Allah SWT.
Jika suatu hari nanti ada yang bertanya, “apa pengalaman paling berharga dalam hidupmu?”
Saya akan menjawab dengan penuh keyakinan, “menjadi petugas haji!”
Karena dari perjalanan itulah saya benar-benar memahami makna firman Allah: “Min haitsu la yahtasib.” Allah memberi rezeki, kesempatan, dan kemuliaan dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.
Dan saya menjadi saksi bahwa janji Allah itu benar adanya.
Penutup: Ternyata Allah Sedang Menyiapkan Jalan
Hingga hari ini, ketika saya menuliskan kembali seluruh perjalanan itu, terkadang saya masih sulit percaya bahwa semua benar-benar telah terjadi.
Saya masih ingat bagaimana saya memulai semuanya sebagai seorang wartawan daerah di Kabupaten Sumenep. Setiap hari berangkat pagi, pulang malam, mengejar narasumber, menulis berita, lalu kembali mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Kehidupan yang sederhana, tetapi saya syukuri sepenuh hati.
Tidak pernah sedikit pun saya membayangkan akan berdiri di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz Madinah menyambut ribuan jemaah haji Indonesia. Tidak pernah saya membayangkan akan berada di tengah jutaan manusia di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sambil memikul amanah sebagai petugas haji. Bahkan saya juga tidak pernah membayangkan dapat melaksanakan ibadah haji di tengah tugas melayani tamu-tamu Allah.
Semua terasa seperti mimpi.
Namun justru dari perjalanan itu saya belajar bahwa Allah sering kali bekerja dengan cara yang tidak mampu dipahami oleh manusia.
Ketika saya sedang sibuk bekerja sebagai wartawan daerah, ternyata Allah sedang menyiapkan jalan lain.
Ketika saya sedang diuji dengan anak yang sakit, ternyata Allah sedang menguji kesabaran saya.
Ketika telepon genggam saya rusak saat pelatihan, ternyata Allah sedang mengajarkan agar saya tidak mudah panik.
Ketika istri saya mengalami kecelakaan saat saya bertugas di Tanah Suci, Allah kembali mengingatkan bahwa tidak semua persoalan dapat kita selesaikan dengan tenaga dan kemampuan sendiri. Ada saatnya seorang hamba hanya mampu mengangkat kedua tangannya dan berkata, “ya Allah, aku titipkan semuanya kepada-Mu.”
Dan ternyata, doa memang memiliki kekuatan yang luar biasa.





