Pada 14 Zulhijah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 31 Mei 2026, rombongan Petugas Daerah Kerja Bandara meninggalkan Makkah menuju Jeddah. Tidak ada waktu berlama-lama menikmati suasana setelah puncak ibadah haji. Keesokan harinya, 1 Juni 2026, fase pemulangan jemaah gelombang pertama melalui Bandara Internasional King Abdulaziz resmi dimulai.
Rutinitas kembali berulang.
Sejak pagi kami sudah berada di bandara. Sebagai petugas Media Center Haji, tugas saya adalah mendokumentasikan dan memberitakan proses kepulangan jemaah Indonesia. Namun seperti pada fase-fase sebelumnya, pekerjaan saya tidak berhenti pada kamera HP.
Setelah liputan selesai, saya kembali bergabung dengan teman-teman dari berbagai bidang tugas. Kami membantu menerima kedatangan jemaah dari Makkah, mengarahkan mereka menuju paviliun, mendampingi para lansia yang menggunakan kursi roda, meski cuaca Jeddah mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, hingga memastikan seluruh barang bawaan sesuai ketentuan maskapai penerbangan.
Banyak jemaah yang sudah tampak lelah setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Namun di wajah mereka terpancar kebahagiaan karena sebentar lagi akan kembali berkumpul dengan keluarga di Indonesia.
Melihat wajah-wajah itu, saya sering teringat keluarga sendiri. Terutama istri dan anak-anak yang selama berminggu-minggu hanya bisa saya sapa melalui panggilan video.
Ujian yang tidak pernah saya bayangkan
Suatu sore, ketika masih bertugas di Madinah pada fase kedatangan, saya baru saja selesai berbicara sekitar lima belas menit melalui telepon dengan istri dan anak saya. Kami saling bertukar kabar seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun.
Beberapa saat kemudian, saat saya sedang makan, telepon kembali berdering.
Istri video call, di ujung sana saya mendapat kabar, “Abi… saya kecelakaan”.
Saya terdiam.
Pikiran saya langsung kosong.
Sebagai seorang suami, naluri pertama tentu ingin pulang. Ingin berada di sampingnya. Ingin menggenggam tangannya ketika sedang kesakitan.
Namun saya berada lebih dari delapan ribu kilometer dari rumah. Saya tidak bisa melakukan apa pun. Saya hanya bisa berdoa.
Sore itu saya pun bergegas menuju Masjid Nabawi. Di kota yang menjadi tempat dimakamkannya Rasulullah SAW, saya menengadahkan tangan dan memohon kepada Allah SWT agar istri saya diberikan pertolongan, diangkat rasa sakitnya, disembuhkan luka-lukanya, dan dipulihkan kesehatannya seperti sediakala.
Tidak ada yang lebih menenangkan selain menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Hari demi hari saya terus mengikuti perkembangan kondisi istri melalui telepon. Alhamdulillah, penanganan medis berjalan dengan baik. Luka-lukanya berangsur pulih, dan perlahan kondisinya kembali membaik.
Peristiwa itu menjadi pelajaran besar bagi saya.
Saya menyadari bahwa setiap amanah selalu memiliki konsekuensi. Menjadi petugas haji berarti harus rela berjauhan dengan keluarga, menahan rindu, bahkan menghadapi ujian ketika orang-orang tercinta sedang membutuhkan kehadiran kita.
Namun saya juga belajar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berserah diri.
Fase Kepulangan Gelombang 2 Madinah
Setelah fase pemulangan di Jeddah selesai pada 15 Juni 2026, kami kembali bergeser ke Madinah. Mulai 16 Juni hingga akhir operasional haji, Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz menjadi pintu kepulangan jemaah gelombang kedua.
Aktivitas kembali berlangsung tanpa henti.
Kami menerima kedatangan jemaah dari hotel, membantu lansia turun dari bus, mendorong kursi roda menuju paviliun, memeriksa barang bawaan, mengarahkan mereka ke terminal keberangkatan, hingga memastikan seluruh proses berjalan tertib sebelum pesawat lepas landas menuju Indonesia.
Setiap hari saya melihat senyum para jemaah. Ada yang memeluk petugas sambil mengucapkan terima kasih. Ada yang berkaca-kaca karena akhirnya bisa menunaikan rukun Islam kelima. Ada pula yang hanya mengangkat kedua tangan sambil mendoakan kami.
Doa-doa sederhana itulah yang menjadi penyemangat di tengah rasa lelah yang tak lagi bisa dihitung.
Kini, ketika seluruh rangkaian tugas hampir selesai, saya sering merenung.
Mengapa Allah memilih saya? Saya bukan wartawan nasional. Saya bukan berasal dari kota besar. Saya hanyalah seorang jurnalis daerah yang setiap hari bertugas di Kabupaten Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura.





