banner 728x250

Min Haitsu La Yahtasib, Kisah Jurnalis Sumenep Menjadi Petugas Haji MCH 2026

M. Hariri, jurnalis TV9 asal Sumenep, mengenakan pakaian ihram putih dengan tulisan "Haji Indonesia 2026", berdiri tersenyum di depan deretan tenda jamaah di Arafah atau Mina, Arab Saudi.
M. Hariri saat menjalankan tugas pelayanan sekaligus menunaikan ibadah haji di Tanah Suci sebagai bagian dari Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi 2026.

Menjelang matahari terbenam, tugas kami justru semakin berat. Begitu waktu wukuf selesai, ribuan jemaah harus segera bergeser. Sebagian menuju Muzdalifah untuk mabit sebelum melanjutkan ke Mina. Sebagian lainnya, terutama jemaah lanjut usia dan risiko tinggi, mengikuti skema murur, yaitu langsung menuju Mina tanpa bermalam di Muzdalifah. Proses itu berlangsung hingga larut malam.

Kami terus berdiri di tengah arus manusia yang bergerak tanpa henti. Rasa lapar, haus, dan lelah seolah tidak lagi terasa karena pikiran kami hanya tertuju pada satu hal: memastikan seluruh jemaah berangkat dengan aman.

Sekitar pukul dua belas malam, ketika bus terakhir telah meninggalkan Arafah, tugas kami ternyata belum selesai. Kami ternyata masih harus kembali menyisir 26 tenda di Markaz 49.

Satu demi satu kami masuki. Kami harus memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal. Tidak ada lansia yang tertidur. Tidak ada barang penting yang tercecer.

Barulah setelah benar-benar yakin seluruh tenda kosong, kami ikut rombongan bus terakhir menuju Mina. Di situlah tantangan pribadi saya dimulai.

Saat turun dari bus, saya masih mengenakan pakaian ihram. Di punggung saya terdapat tas perlengkapan dengan berat sekitar delapan hingga sepuluh kilogram. Di bagian depan masih ada tas kecil berisi kebutuhan pribadi. Sehingga total beban yang harus saya bawa lebih dari sepuluh kilogram.

Dari titik turun bus menuju kompleks Jamarat, saya harus berjalan kaki sekitar empat kilometer. Langkah demi langkah saya ayunkan di tengah lautan manusia dari berbagai negara. Sesekali saya berhenti mengambil napas. Bahu terasa pegal. Kaki mulai nyeri. Tenggorokan kering.

Tetapi entah mengapa, di dalam hati muncul keyakinan yang sulit dijelaskan. Saya percaya Allah akan memberikan kekuatan.

Dan benar saja. Sedikit demi sedikit langkah itu terasa ringan. Saya akhirnya tiba di Jamarat dan berhasil melaksanakan lontar Jumrah Aqabah pada malam 10 Zulhijah.

Saat melempar tujuh kerikil ke arah jumrah, saya tidak hanya melempar simbol godaan setan. Saya merasa sedang melempar rasa lelah, keraguan, dan seluruh ketakutan yang selama ini menghampiri perjalanan saya.

Alhamdulillah. Semuanya dapat saya lalui.

Setelah itu kami menuju hotel Daerah Kerja Bandara di kawasan Aziziyah. Dari pintu keluar Jamarat kami kembali berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer menuju hotel.

Saat itulah terbersit di kepala saya seakan diri ini seperti seorang prajurit perang, perang melawan ego pribadi namun penuh keyakinan.

Tubuh benar-benar meminta istirahat.

Namun waktu istirahat hanya sebentar.

Esok paginya kami kembali bertugas.

Selama hari-hari tasyrik, saya bersama rekan-rekan kembali ke jalur Jamarat untuk membantu mengarahkan jemaah Indonesia yang akan melaksanakan lontar jumrah. Kami memastikan arus jemaah tetap tertib, membantu lansia yang membutuhkan pendampingan, mengarahkan jemaah yang lupa jalan menuju hotel serta terus berkoordinasi dengan petugas lain agar seluruh proses berjalan aman.

Di sela-sela tugas pelayanan, saya juga menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Pada 12 Zulhijah, saya melaksanakan tawaf ifadah, sa’i, serta lontar jumrah hari ketiga.

Sebagai petugas Daerah Kerja Bandara, kami mengambil nafar awal, karena keesokan harinya, 13 Zulhijah, kami harus segera meninggalkan Makkah untuk kembali menjalankan tugas layanan berikutnya.

Belum selesai menikmati suasana Makkah, kami langsung bergerak menuju Jeddah.

Tidak ada waktu berlama-lama. Tidak ada waktu menikmati euforia setelah berhaji. Masih ada puluhan ribu jemaah Indonesia yang harus kami layani untuk kembali ke Tanah Air dengan selamat.

Saat itulah saya benar-benar memahami makna pengabdian. Menjadi petugas haji berarti mendahulukan kepentingan jemaah di atas kepentingan pribadi.

Kami memang datang ke Tanah Suci untuk juga berhaji. Namun selama bertugas, ibadah terbesar justru kami rasakan ketika membantu orang lain agar dapat beribadah dengan lebih baik.

Dan di tengah semua pengabdian itu, Allah kembali menguji saya dengan sebuah cobaan yang jauh lebih berat daripada rasa lelah dan perjalanan Panjang; sebuah kabar dari Tanah Air membuat hati saya seketika runtuh.

Bagian 4: _Doa di Masjid Nabawi dan Sebuah Takdir yang Mengubah Hidup

Perjalanan kami belum selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *