Namun kenyataan di lapangan ternyata jauh berbeda dari yang saya bayangkan. Setelah liputan selesai dan berita dikirim, HP dan kamera sering kali kami letakkan. Mikrofon kami simpan.
Saat itulah identitas sebagai wartawan seolah berganti menjadi petugas pelayanan. Tanpa ada yang meminta, kami langsung bergabung dengan teman-teman dari bidang transportasi, perlindungan jemaah hingga layanan lansia dan disabilitas.
Kami menyambut jemaah yang baru turun dari pesawat. Ada yang menangis haru. Ada yang langsung bersujud syukur. Ada pula para lansia yang tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dari Indonesia.
Saat mereka membutuhkan bantuan, kami tidak lagi berpikir berasal dari bidang tugas yang berbeda. Yang kami tahu hanya satu: mereka adalah tamu Allah yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya.
Saya ikut mendorong kursi roda para lansia dari terminal menuju pavilion; membantu mengangkat tas mereka; menggandeng jemaah yang kesulitan berjalan; dan mengarahkan rombongan agar tidak terpisah.
Bahkan beberapa kali saya membantu menenangkan jemaah yang kebingungan karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi.
Semua dilakukan dengan spontan. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada rasa sungkan. Justru di situlah saya merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Saya menyadari, selama ini saya terbiasa meliput orang lain yang sedang mengabdi. Kini sayalah yang diberi kesempatan untuk mengabdi.
Fase kedatangan di Madinah berlangsung sekitar lima belas hari. Hampir setiap hari ritme kerja kami sama: berangkat ke bandara, meliput, mengirim berita, membantu pelayanan, kembali ke penginapan.
Kelelahan memang tidak bisa dihindari.Namun setiap melihat senyum para jemaah, rasa lelah itu seperti hilang begitu saja.
Setelah fase Madinah selesai, kami pun bergeser ke Jeddah. Tepatnya ke Bandara Internasional King Abdulaziz yang akan menjadi pusat kedatangan gelombang kedua jemaah Indonesia.
Irama pekerjaan kembali berulang. Namun tantangannya jauh lebih besar. Jumlah jemaah yang datang semakin banyak. Cuaca Jeddah lebih panas. Aktivitas bandara lebih padat.
Meski demikian, semangat teman-teman petugas justru semakin tinggi. Kami kembali bekerja tanpa mengenal sekat bidang tugas. Saya kembali ikut membantu mendorong kursi roda, mendampingi lansia, mengantar jemaah menuju bus, dan membantu mereka yang kesulitan membawa barang.
Ada satu pengalaman yang sampai sekarang masih membekas di ingatan saya. Seorang jemaah lansia ternyata tidak yakin kain ihramnya masih suci atau sudah terkena najis. Melihat kondisi tersebut, tanpa berpikir panjang, petugas daker bandara membantu menggantikan kain ihramnya.
Di kesempatan lain, saya juga mendapati jemaah yang sudah berihram tetapi masih memakai sepatu. Kami membantu mengganti dengan sandal agar ibadah yang dijalankan sesuai tuntunan.
Mungkin bagi sebagian orang itu pekerjaan sederhana. Namun bagi saya, itulah inti pelayanan. Kadang pelayanan bukan tentang pekerjaan besar, melainkan tentang membantu orang lain melakukan hal-hal kecil yang sangat berarti.
Semakin lama saya bertugas, semakin saya merasakan bahwa di Tanah Suci tidak ada lagi batas profesi. Dokter ikut mengangkat koper. Petugas transportasi membantu membagikan air mineral. Media Center ikut mendorong kursi roda. Petugas perlindungan jemaah membantu mengatur antrean. Semua bekerja sebagai satu keluarga besar. Semua memiliki tujuan yang sama; melayani para dhuyufurrahman-tamu-tamu Allah.
Di tengah kesibukan itu, saya sering merenung. Kalau saja dulu saya menolak mengikuti seleksi; memilih pulang saat mendengar anak sakit; atau menyerah ketika diterpa berbagai ujian, mungkin saya tidak akan pernah merasakan pengalaman luar biasa seperti ini.
Kini, saya semakin yakin bahwa Allah tidak hanya memilih seseorang datang ke Tanah Suci sebagai Jemaah. Tapi Allah juga memilih siapa yang diberi kesempatan melayani para jemaah. Dan kesempatan itu adalah nikmat yang tidak semua orang dapatkan.
Belum selesai kami menikmati ritme pelayanan di bandara, datang amanah berikutnya. Kami mendapat penugasan baru sebagai Satgas Arafah. Pekerjaan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Kami harus bersiap menuju puncak ibadah haji, sebuah fase yang bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menguji keikhlasan, kesabaran, dan ketahanan fisik setiap petugas.
Di titik inilah saya mulai memahami, bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar bekerja. Menjadi petugas haji adalah perjalanan panjang untuk belajar melayani dengan hati.
Bagian 3: Arafah, Muzdalifah, Mina, Ketika Amanah Menjadi Jalan Ibadah
Memasuki bulan Zulhijah, denyut Kota Makkah mulai berubah. Jalan-jalan semakin padat, jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia berdatangan, dan seluruh petugas mulai memasuki fase paling menentukan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Kami yang sebelumnya bertugas di Daerah Kerja Bandara mendapat amanah baru sebagai Satuan Tugas Arafah. Penugasan itu membawa kami menuju Markaz 49, salah satu markaz yang akan menampung sekitar 3.900 jemaah haji Indonesia dalam 26 tenda.
Pada pagi 7 Zulhijah, kami berangkat menuju Arafah. Begitu turun dari bus, tidak ada waktu untuk beristirahat. Bersama petugas dari berbagai unsur lainnya, kami langsung bekerja.
Di Markaz 49 baru tersapat 3 orang petugas termasuk saya. Satu per satu tenda kami periksa. Pendingin ruangan harus menyala. Kasur harus tersedia. Bantal dan selimut harus sesuai jumlah. Listrik harus berfungsi. Dan toilet harus siap digunakan.
Kami menghitung satu per satu isi setiap tenda. Tidak boleh ada yang terlewat. Meski matahari Arafah begitu menyengat dan suhu udara terus meningkat, tak seorang pun mengeluh. Kami memahami bahwa apa yang kami lakukan hari itu akan menentukan kenyamanan ribuan jemaah saat menjalani wukuf.
Setelah seluruh perlengkapan dipastikan lengkap, kami melanjutkan pekerjaan berikutnya, yaitu menempelkan daftar nama jemaah di setiap tenda. Tujuannya sederhana tetapi sangat penting: agar saat jemaah datang pada 8 Zulhijah, mereka langsung mengetahui tempat masing-masing sehingga tidak terjadi kekacauan.
Malam harinya, Markaz 49 Arafah baru mendapatkan tambahan personel empat orang dari Makkah.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Pada 9 Zulhijah, jutaan manusia berada di Padang Arafah. Ribuan jemaah Indonesia yang berada di Markaz 49 mulai menjalani wukuf, puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Di tengah kekhusyukan mereka berdoa, kami tetap siaga. Ada yang mengatur distribusi layanan, membantu jemaah yang membutuhkan, mengarahkan lansia, hingga memastikan seluruh kebutuhan dasar mereka terpenuhi.





