banner 728x250

Min Haitsu La Yahtasib, Kisah Jurnalis Sumenep Menjadi Petugas Haji MCH 2026

M. Hariri, jurnalis TV9 asal Sumenep, mengenakan pakaian ihram putih dengan tulisan "Haji Indonesia 2026", berdiri tersenyum di depan deretan tenda jamaah di Arafah atau Mina, Arab Saudi.
M. Hariri saat menjalankan tugas pelayanan sekaligus menunaikan ibadah haji di Tanah Suci sebagai bagian dari Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi 2026.

Hingga pada akhir Desember 2025, kabar yang tidak pernah saya bayangkan benar-benar datang.

Pagi-pagi, saat saya jalan santai bersama anak pertama, tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk dari Kemenhaj. Saya dinyatakan lulus.

Rasanya sulit menggambarkan perasaan saat itu.

Bahagia.

Terharu.

Tidak percaya.

Saya membaca pengumuman itu berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa saya tidak salah melihat nama.

Saya bersujud syukur.

Di dalam hati saya berkata, “ya Allah, benarkah Engkau memilih saya?”

Saya yakin, kelulusan itu bukan semata-mata karena kemampuan saya. Ada doa orang tua yang tidak pernah putus. Ada doa istri yang selalu menguatkan. Ada doa anak-anak, keluarga, para sahabat, rekan-rekan wartawan di Sumenep, dan semua orang yang diam-diam berharap saya mendapat kesempatan itu.

Bagi saya, menjadi petugas haji bukanlah sebuah prestasi. Ini adalah amanah. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Allah SWT.

Setelah dinyatakan lulus, saya mengikuti pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Saya mulai bertemu dengan ratusan calon petugas dari berbagai daerah di Indonesia. Ada dokter, perawat, pembimbing ibadah, petugas transportasi, petugas perlindungan jemaah, petugas akomodasi, hingga rekan-rekan Media Center Haji.

Di sanalah saya menyadari bahwa kami semua datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: melayani tamu-tamu Allah.

Pelatihan berlangsung padat.

Fisik diuji.

Mental diuji.

Disiplin diuji.

Setiap hari dipenuhi materi pelayanan, simulasi lapangan, koordinasi, hingga berbagai pembekalan teknis.

Di tengah padatnya kegiatan itu, ujian kembali datang. Telepon genggam yang menjadi alat kerja utama saya tiba-tiba terjatuh hingga rusak. Padahal hampir seluruh komunikasi, materi pelatihan, dan koordinasi dilakukan melalui perangkat tersebut.

Sempat muncul rasa panik. Namun saya kembali mencoba tenang. Setelah mencari tempat servis, alhamdulillah telepon itu berhasil diperbaiki dalam waktu satu hari.

Saya kembali melanjutkan pelatihan.

Saat itu saya mulai memahami satu hal. Setiap langkah menuju sebuah amanah ternyata selalu disertai ujian. Mungkin memang begitulah cara Allah mempersiapkan hamba-Nya.

Sampai di sini, saya belum tahu bahwa ujian-ujian yang lebih besar justru sedang menunggu di Tanah Suci.

Bagian 2: Ketika Kamera Diletakkan, Saatnya Melayani Tamu Allah

Tanggal 18 Mei 2026 menjadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan.

Hari itu saya meninggalkan Indonesia menuju Arab Saudi sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 2026. Di dalam pesawat, berkali-kali saya bertanya kepada diri sendiri, “Benarkah saya sedang menuju Tanah Suci sebagai petugas haji?”

Rasanya masih sulit dipercaya. Seorang wartawan daerah dari Kabupaten Sumenep, kini mendapat amanah menjadi bagian dari Media Center Haji Daerah Kerja Bandara.

Sesampainya di Makkah dan Madinah, tidak ada waktu berlama-lama menikmati suasana kota Nabi. Kami langsung mengikuti orientasi lapangan, pembagian tugas, dan berbagai koordinasi menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia.

Beberapa hari kemudian, fase kedatangan gelombang pertama dimulai melalui Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah.

Di sinilah tugas utama kami dimulai.

Setiap hari kami meliput kedatangan jemaah, mengambil gambar, mewawancarai jemaah, menulis berita, mengirim foto dan video ke Indonesia, serta memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang cepat dan akurat mengenai penyelenggaraan ibadah haji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *