M.Hariri – Media Center Haji Daker Bandara, PPIH Arab Saudi 2026
Bagian 1: Sebuah Telepon yang Mengubah Jalan Hidup
Ada sebuah kalimat dalam Al-Qur’an yang sejak lama saya yakini, tetapi baru benar-benar saya rasakan maknanya pada musim haji tahun 1447 Hijriah.
“Min haitsu la yahtasib.” Dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.
Kalimat itu bukan sekadar rangkaian ayat yang sering didengar dalam ceramah. Kalimat itu benar-benar menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Saya adalah M. Hariri. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Jurnalis TV9 Nusantara yang bertugas di Kabupaten Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur. Rutinitas saya sederhana. Hampir setiap hari mengejar narasumber, meliput berbagai peristiwa, menulis berita, mengirim video, lalu kembali bersiap untuk liputan berikutnya.
Sebagai wartawan daerah, saya terbiasa bekerja jauh dari sorotan. Liputan tentang pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya, hingga berbagai persoalan masyarakat menjadi makanan sehari-hari. Saya menikmati pekerjaan itu. Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa suatu hari saya akan berada ribuan kilometer dari kampung halaman, mengenakan identitas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Kalau ditanya apakah pernah bercita-cita menjadi petugas haji, jawabannya sederhana: tidak! Bahkan bermimpi pun tidak.
Semua bermula pada hari Rabu, 10 Desember 2025. Saat itu saya sedang duduk di Sekretariat Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) bersama Bendahara saya Fathol Alif. Telepon dari kantor Tv9 berbunyi. Dari ujung sambungan, saya mendapat informasi yang sama sekali tidak saya duga. Saya diminta mendaftarkan diri sebagai calon petugas haji pada Tusi Media Center Haji.
Saya sempat terdiam.
“Benarkah saya?” pertanyaan itu terus berputar di kepala.
Saya hanyalah wartawan daerah. Bertugas di Sumenep. Tidak bekerja di ibu kota. Tidak setiap hari bertemu pejabat pusat. Rasanya kesempatan itu begitu jauh dari jangkauan saya.
Namun kesempatan itu benar-benar datang.
Telepon itu tak langsung saya jawab “ya”. Saya meminta izin untuk berkonsultasi dengan ibu dan istri perihal tawaran itu.
Setelah menelepon dua orang yang paling saya sayangi, saya mendapatkan dukungan dan doa dari keduanya. Saat itulah semangat mulai tumbuh. Saya pun segera menghubungi kembali koordinator liputan TV9 untuk menyatakan kesiapan mendaftar.
Tanpa berpikir panjang, saya mulai menyiapkan seluruh persyaratan administrasi. Berkas demi berkas saya lengkapi. Semua proses saya jalani dengan sungguh-sungguh. Di dalam hati, saya hanya berniat mencoba. Soal hasil, saya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Tahapan seleksi berlangsung di Jakarta.
Di sinilah ujian pertama dimulai.
Saat mengikuti tes tertulis dan wawancara, telepon dari rumah datang membawa kabar yang membuat hati saya tidak tenang. Anak kedua saya sedang sakit.
Sebagai seorang ayah, naluri saya ingin segera pulang. Ingin berada di samping anak. Namun pada saat yang sama saya sedang berada dalam tahapan seleksi yang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.
Hari itu menjadi salah satu hari terberat dalam hidup saya.
Saya berusaha menenangkan hati. Saya selesaikan seluruh rangkaian tes. Setelah itu saya bergegas mencari transportasi agar bisa segera kembali ke Sumenep.
Rupanya ujian belum selesai. Travel yang saya tumpangi tidak berjalan sesuai jadwal. Terjadi keterlambatan hingga perjalanan menjadi jauh lebih lama dari yang seharusnya. Saya hanya bisa memandang keluar jendela kendaraan sambil terus memikirkan kondisi anak di rumah.
Sesampainya di Sumenep, saya hanya sempat beristirahat semalam. Keesokan harinya, anak saya harus dibawa ke rumah sakit karena kondisinya semakin menurun.
Di ruang rumah sakit itulah saya kembali belajar tentang arti berserah diri. Saya sadar, ada banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia. Yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha, berdoa, dan mempercayakan semuanya kepada Allah SWT.
Saat sedang menjaga anak di rumah sakit, istri saya tiba-tiba berbisik, “kayaknya Abi bakalan lulus.” Namun pernyataan itu saya anggap sebagai kalimat penyemangat saja.
Hari-hari berikutnya saya jalani seperti biasa. Saya kembali bekerja sebagai wartawan. Tidak banyak berpikir tentang hasil seleksi. Saya mencoba mengikhlaskan apa pun keputusan yang nantinya diberikan.





