Oleh: Akhmadi Yasid (anggota DPRD Sumenep Fraksi PKB)
Ada yang selalu menarik dari acara pelantikan. Ia sering dianggap sekadar sebagai upacara. Dari pembacaan nama, pengukuhan jabatan, lalu tepuk tangan dan foto bersama. Setelah itu selesai. Orang-orang pulang membawa kesibukan masing-masing.
Tapi mungkin tidak selalu begitu. Sebab ada organisasi yang tidak benar-benar hidup dari struktur. Ia hidup dari denyut masyarakat. Dari langgar kecil di kampung. Dari suara mengaji selepas magrib. Dari tahlil di rumah duka.
Dari peci lusuh kiai kampung yang diam-diam menjaga Indonesia tetap waras. Dari kekompakan ibu-ibu fatayat dan muslimat mengikuti pengajian. Begitulah NU yang lahir dari ruang seperti itu.
Karena itu, pelantikan PCNU Sumenep (16/5) nanti semestinya bukan sekadar agenda administratif lima tahunan. Bukan hanya pergantian pengurus dari nama lama ke nama baru. Ada sesuatu yang lebih penting: peneguhan kembali jalan khidmat.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, ketika agama sering dipakai sebagai alat kemarahan, ketika identitas kadang berubah menjadi senjata politik, NU justru dituntut kembali menunjukkan watak dasarnya: teduh, membumi, dan tetap setia kepada Aswaja.
Aswaja sendiri sesungguhnya bukan hanya istilah teologis. Ia bukan sekadar rumusan dalam kitab kuning. Ia adalah cara memandang hidup. Cara menjaga keseimbangan. Cara menerima perbedaan tanpa kehilangan keyakinan.
Mungkin itu sebabnya NU bertahan begitu lama. Ia tidak dibangun di atas kemarahan. Ia tumbuh lewat kesabaran.









