Oleh: AKHMADI YASID (*Mantan Jurnalis, kini mengabdi di Parlemen)
ADA kabar yang datang bukan dengan suara keras, tapi dengan daya kejut yang panjang. Seperti petir di siang bolong, melainkan karena kita tak pernah menyiapkan diri untuk terkejut.
Saat tahapan seleksi calon Sekda Sumenep tengah berlangsung, ketika publik mulai menimbang dengan kepala dingin, mengurai nama demi nama, tiba-tiba satu kabar beredar. Ini dia: salah satu calon kuat itu memilih mundur.
Bukan nama kecil. Bukan figur pinggiran. Ia Arif Firmanto, Kepala Bappeda. Seorang yang sejak awal disebut-sebut sebagai kandidat unggulan.
Kita pun bertanya, nyaris serempak: mengapa? Bahkan pertanyaan lain yang lebih tajam: ada apa? Pertanyaan itu wajar.
Dalam setiap proses seleksi jabatan strategis, publik selalu membaca tanda-tanda. Siapa yang kuat, siapa yang dekat, siapa yang dianggap “punya peluang lebih”. Dan Arif Firmanto berada di simpul itu. Setidaknya berdasarkan informasi yang mengemuka.
Ada kedekatan kekeluargaan dengan pemilik kuasa, ada rekam jejak birokrasi, ada posisi strategis yang ia duduki. Semua seolah mengarah ke satu kesimpulan sederhana. Mungkinkah ini yang memang dianggap kandidat serius!
Tapi kenyataan, seperti sering terjadi, tak selalu patuh pada logika yang rapi. Kenyataan tak selalu berbanding lurus dengan keinginan. Lumrah saja. Tapi tetap melahirkan pertanyaan yang jawabannya mungkin panjang. Bahkan sangat panjang.
Sumber dari Komisi I DPRD Sumenep mengonfirmasi kabar itu. Kepala BKPSDM Sumenep, Benny Irawan juga menyampaikan hal serupa. Arif Firmanto mengundurkan diri dari proses seleksi. Titik. Tak ada kalimat panjang, tak ada narasi emosional. Hanya fakta.









