banner 728x250
Opini  

Wakil Bupati dan Ruang-Ruang yang Tak Terbaca Algoritma

Foto profil Wildan, Wakil Sekretaris Bidang Media Cyber GP Ansor Sumenep, penulis artikel tentang ruang kerja senyap Wakil Bupati Sumenep, tampak mengenakan peci hitam dan seragam hijau.
Wildan, Wakil Sekretaris Bidang Media Cyber GP Ansor Sumenep, saat mengulas urgensi melihat kinerja utuh seorang Wakil Bupati yang kerap tidak tersorot oleh algoritma media sosial.

Oleh: Wildan (Wakil Sekertaris PC GP Ansor Sumenep – Bidang Media Cyber)

 

BELAKANGAN muncul sebuah tulisan yang mempertanyakan peran wakil bupati. Judulnya cukup provokatif: Wakil Bupati atau Pajangan Serambi? Sebuah pertanyaan yang sah dalam demokrasi. Sebab jabatan publik memang harus terbuka terhadap kritik dan penilaian masyarakat.

Namun ada satu hal yang sering luput ketika kita menilai seorang pemimpin di era media sosial dan banjir informasi hari ini. Kita terlalu sering mengukur kerja dari apa yang muncul di layar telepon genggam. Kita menganggap yang tidak tampil berarti tidak bekerja.

Yang tidak viral dianggap tidak ada. Yang tidak masuk linimasa dianggap tidak pernah terjadi. Padahal pemerintahan tidak selalu bekerja di ruang yang terang. Ada banyak pekerjaan yang berlangsung di ruang-ruang yang tidak terbaca algoritma.

Di Sumenep, misalnya. Jika ukuran kerja hanya berdasarkan seberapa sering wajah seorang pejabat muncul di media sosial, mungkin banyak kesimpulan bisa dibangun dengan mudah. Tetapi jika ukuran kerja adalah keterlibatan dalam penyelesaian persoalan pemerintahan dan sosial kemasyarakatan, ceritanya menjadi jauh lebih kompleks.

Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim selama ini justru menjalankan banyak tugas yang mungkin tidak seluruhnya masuk dalam pemberitaan. Dari urusan pemerintahan hingga urusan sosial. Dari agenda-agenda kenegaraan yang formal hingga persoalan-persoalan kerakyatan yang sering kali tidak menarik perhatian media.

Dalam banyak kesempatan, ia hadir mewakili pemerintah daerah pada forum-forum strategis. Di kesempatan lain, ia berada di tengah masyarakat menghadiri kegiatan keagamaan, menyelesaikan komunikasi sosial, merajut hubungan dengan tokoh masyarakat, ulama, organisasi kemasyarakatan hingga kelompok-kelompok akar rumput.

Pekerjaan seperti itu sering dianggap biasa. Padahal tidak. Menjaga harmoni sosial di daerah yang luas seperti Sumenep, dengan 334 desa dan kelurahan yang tersebar hingga kepulauan, bukan pekerjaan kecil.

Banyak persoalan selesai bukan melalui rapat besar yang diliput media, melainkan melalui komunikasi, pendekatan personal, dan kehadiran langsung di tengah masyarakat. Persoalannya, kerja-kerja semacam itu tidak selalu menghasilkan foto yang menarik untuk media sosial.

Algoritma lebih menyukai kontroversi daripada mediasi. Lebih tertarik pada konflik daripada penyelesaian masalah. Lebih senang pada keributan daripada kerja senyap. Akibatnya, publik terkadang hanya melihat sebagian kecil dari kenyataan.

Padahal dalam praktik pemerintahan daerah, posisi wakil bupati memang tidak identik dengan pemegang kendali utama birokrasi. Banyak tugas yang dijalankan bersifat koordinatif, representatif, dan sosial-politik. Sebagian bahkan berlangsung jauh dari sorotan kamera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *