banner 728x250
Opini  

Wakil Bupati dan Ruang-Ruang yang Tak Terbaca Algoritma

Foto profil Wildan, Wakil Sekretaris Bidang Media Cyber GP Ansor Sumenep, penulis artikel tentang ruang kerja senyap Wakil Bupati Sumenep, tampak mengenakan peci hitam dan seragam hijau.
Wildan, Wakil Sekretaris Bidang Media Cyber GP Ansor Sumenep, saat mengulas urgensi melihat kinerja utuh seorang Wakil Bupati yang kerap tidak tersorot oleh algoritma media sosial.

Bukan berarti jabatan wakil bupati tidak boleh dikritik. Justru kritik diperlukan agar publik terus mengawasi jalannya pemerintahan. Tetapi kritik juga perlu berpijak pada gambaran yang utuh. Jangan sampai kita terjebak pada kesimpulan yang dibangun semata-mata dari apa yang berhasil ditangkap algoritma.

Sebab algoritma tidak pernah hadir saat seorang pejabat menerima keluhan warga hingga larut malam. Algoritma tidak membaca percakapan-percakapan panjang yang menyelesaikan konflik sosial.

Dan, Algoritma kerap tidak merekam upaya menjembatani kepentingan masyarakat dengan pemerintah. Bahkan algoritma sering gagal membaca kerja-kerja sunyi yang justru menjadi fondasi stabilitas daerah.

Di sinilah kita perlu membedakan antara politik pencitraan dan pengabdian. Yang pertama bekerja untuk kamera. Yang kedua bekerja untuk masyarakat.

Tentu idealnya keduanya berjalan beriringan. Kerja harus dilakukan, dan publik juga berhak mengetahuinya. Namun ketika ada pekerjaan yang tidak sempat dipublikasikan, bukan berarti pekerjaan itu tidak pernah ada.

Kegiatan seperti pengajian haul Raja-Raja di Sumenep, termasuk rutinan shalawat nariyah di pendopo, mungkin tak sepenuhnya terbaca algoritma. Tapi yakinlah bahwa semua itu berasal dari ide wakil bupati.

Apalah daya ini ruang publik. Alogoritma tak membaca hal-hal biasa. Apalagi algoritma yang memang didorong untuk kepentingan tertentu.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah wakil bupati sekadar pajangan atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kehadirannya memberi manfaat bagi masyarakat.

Dan jika ukuran itu yang dipakai, maka banyak warga Sumenep sesungguhnya telah menyaksikan sendiri bagaimana KH Imam Hasyim hadir dalam berbagai urusan daerah.

Kadang di ruang rapat pemerintahan. Kadang di tengah masyarakat. Kadang di acara besar yang ramai diberitakan. Kadang pula di ruang-ruang sunyi yang tidak pernah tersentuh kamera. Sebab tidak semua pengabdian lahir untuk menjadi berita.

Ada yang memang ditakdirkan selesai sebagai manfaat. Dan sering kali, manfaat terbesar justru lahir dari ruang-ruang gelap yang tidak pernah berhasil dibaca algoritma. Bukankah begitu kisanak? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *