Oleh: AKHMADI YASID (*Mantan Jurnalis, kini mengabdi di Parlemen)
SELALU ada kejutan dalam hidup. Selalu ada yang baru, meski yang lama kadang masih berproses. Kita cukup memahami itu sebagai sebuah perjalanan nasib.
Seperti takdir yang kerap berjalan berlawanan arah dengan pengharapan.
Kita menyiapkan rencana, menakar peluang, menyebut nama-nama unggulan. Tapi kadang lalu lupa satu hal paling mendasar: jalan takdir tak pernah meminta persetujuan.
Yang diharapkan belum tentu ditakdirkan. Yang ditakdirkan sering kali justru tak pernah kita siapkan dalam daftar harapan. Namanya saja takdir. Selalu menyimpan rahasia sampai episode terakhir.
Maka sesungguhnya publik tak perlu terlalu terkejut ketika seleksi Sekda Sumenep berjalan penuh keterkejutan. Irama prosesnya seperti roller coaster: naik perlahan, lalu jatuh mendadak, membuat dada dagdigdug.
Selama dagdigdug itu iramanya sama, maka keterkejutan berpotensi selalu lahir. Pun begitu terkasang di ujung lintasan selalu ada satu bunyi yang sama: serrr. Jadilah dagdigdug serrr!
Ketika Arif Firmanto, Kepala Bappeda Sumenep, yang lama disebut sebagai kandidat paling masuk akal, memilih mundur, publik terkejut. Apalagi memang tanpa penjelasan kepada publik, maka ruang tafsir pun terbuka lebar.
Ada yang membaca sebagai keputusan pribadi, ada pula yang mencium desain tertentu yang tak terucap. Dalam birokrasi, diam sering kali lebih ramai daripada penjelasan.
Publik lalu bergeser jago. Logika bekerja cepat: jika Arif mundur, maka Eri Susanto, Kadis PUTR Sumenep, adalah figur berikutnya yang paling masuk akal.
Unggulan baru pun lahir, seperti sebelumnya: pelan-pelan diyakini. Pelan tapi pasti meski lalu berasa pasa jalan yang diam-diam diunggulkan.







