Namun sekali lagi, takdir memilih berbicara dengan caranya sendiri. Takdir memang tak bisa diproyeksi, bahkan oleh siapa pun.
Berdasarkan Berita Acara Rapat Panitia Seleksi Nomor 12/PANSEL JPT PRATAMA-SMP/II/2026 tertanggal 5 Februari 2026, ternyata tersisa enam orang.
Dan, secara mengejutkan nama Eri Susanto sudah tidak tertera disana. Lagi-lagi dagdigdug di sini, iya di sini bro! Kata penggalan lagu Ayu Tingting: sakitnya tuh di sini. Alamakkkk.
Sebaris kalimat administratif, namun efeknya mengguncang persepsi. Seolah ada pesan yang sedang dikirimkan: takdir bukan untuk diproyeksikan tadi. Apalagi untuk dipesankan. Ia cukup ditunggu, dengan sabar dan kepala dingin.
Kini publik semakin penasaran. Kepada siapa sebenarnya takdir akan berpihak?
Enam nama tersisa. Enam peluang yang masih terbuka. Dan sekali lagi, unggulan baru mulai disebut lagi, ini dia: Agus Dwi Saputra, Kepala DPMD Sumenep, bersama lima kandidat lainnya.
Apakah Agus yang ditakdirkan? Ataukah lagi-lagi takdir akan memilih nama yang tak terlalu riuh dibicarakan?
Jangan lupa satu hal penting: takdir tak pernah bekerja untuk menyenangkan tebakan kita. Ia hanya setia pada dirinya sendiri. Dan seperti biasa, kita baru benar-benar mengerti setelah semuanya selesai.
Dan pada akhirnya, seleksi ini mengajarkan satu ironi yang kerap kita abaikan: bahwa yang paling sering disebut belum tentu yang dipilih, dan yang paling siap di atas kertas belum tentu yang sampai di kursi.
Takdir bekerja tanpa pengeras suara, ia tak peduli pada unggulan, tak tunduk pada tafsir publik. Ia hanya berjalan, memilih, lalu meninggalkan kita dengan satu kebiasaan lama yang selalu terulang. Kita baru percaya setelah segalanya selesai. (*)







