banner 728x250
Opini  

Senyum Getir Kepala Desa yang Mengundang Gundah

Kepala desa berdiri di jalan desa berlubang saat senja, tersenyum tipis dengan ekspresi gundah, berlatar kantor desa dan bangunan gerai koperasi.
Seorang kepala desa berdiri di tengah desa dengan senyum tertahan, merepresentasikan dilema kepemimpinan desa di tengah kebijakan pembangunan nasional yang membatasi ruang kemandirian. [ILUSTRASI]

Oleh: AKHMADI YASID (*Mantan Jurnalis, kini mengabdi di parlemen)

PARA kepala desa kini jarang tertawa. Senyum mereka lebih sering hadir sebagai kewajiban sosial, bukan luapan rasa. Betul apa betul?

Di hadapan rakyat, senyum itu harus tetap terpasang. Karena jabatan menuntut ketegaran. Namun di baliknya, ada getir yang dikunyah pelan-pelan. Agar tak tumpah menjadi keluhan.

Mereka bukan tak bersyukur. Justru karena bersyukur itulah mereka tahu: keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Sejatinya menjadi kepala desa masih terdengar gagah. Dihormati, dipanggil Pak atau Bu dengan nada penuh takzim, dimintai doa dan keputusan. Bekerja lebih dari 24 jam, tak mengenal tanggal.

Tapi kehormatan tanpa kuasa hanyalah pepesan kosong. Indah didengar, rapuh dirasa. Jabatan memangku nama besar. Tapi sayang tak selalu memangku kemampuan untuk berbuat.

Kebijakan nasional tentang pembangunan gerai koperasi datang dengan wajah ramah. Ia disebut harapan, disebut jalan keluar, disebut masa depan ekonomi desa.

Sebuah senyum besar datang dari negara. Tapi senyum itu ternyata meminta tebusan. What? Iya, tebusan, tidak salah. Bentuknya berupa potongan dana desa. Harapan yang dibayar dengan pengorbanan.

Di situlah senyum para kepala desa berubah. Menjadi senyum yang menahan sedih. Getir. Bahkan pahit.

Dana desa yang dulu menjadi sumber keberanian kini dijadikan alat barter. Dipotong, disesuaikan, diarahkan. Kepala desa pun kehilangan ruang untuk menjawab jeritan kecil rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *