Sekda bukan jabatan administratif semata. Ia adalah simpul utama pemerintahan, penghubung antara arah politik kepala daerah dan profesionalisme birokrasi. Dari meja Sekda, ritme pemerintahan ditentukan. Apakah berjalan lurus sesuai aturan, atau berbelok pelan mengikuti tekanan yang tak kasatmata.
Delapan nama yang kini bertarung sesungguhnya tidak datang dari ruang kosong. Mereka adalah pejabat aktif yang paham betul bahwa kursi Sekda bukan hadiah, melainkan nantinya menjadi beban sejarah. Jabatan ini menuntut ketegasan sikap, kejernihan nurani, dan keberanian menjaga jarak dari kepentingan yang merusak tatanan.
Karena itu, publik Sumenep sejatinya tidak sedang sibuk menebak siapa yang akan menang hari ini. Yang ditunggu bukan sekadar pengumuman, melainkan sesuatu yang lebih dari itu.
Sebab dalam urusan Sekda, yang terbaik tidak ditentukan saat seleksi, tapi setelah muncul posisi. Saat ia berani berkata tidak pada intervensi. Saat ia lebih setia pada aturan daripada relasi. Saat ia memimpin birokrasi dengan keteladanan, bukan ketakutan.
Pada akhirnya, seleksi Sekda bukan sekadar agenda kepegawaian. Ia adalah ujian panjang kejujuran yang mengisi ruang Sumekar. Sumenep tidak kekurangan orang pintar. Yang langka adalah keberanian memilih orang tepat, meski bukan orang dekat.
Proses boleh selesai di atas meja, tapi penilaiannya akan terus hidup di benak publik. Dan sejarah daerah ini selalu punya cara sederhana untuk mengingat: siapa yang jujur saat berkuasa dan yang sekedar pandai berpura-pura. Tabik. (*)









