Oleh: AKHMADI YASID*
SELALU ada pola yang sama. Setiap Hari Lahir NU, satu pemandangan kembali berulang: banyak yang merasa NU. Bahkan tak sedikit yang merasa paling NU. Yang lain, sekadar nebeng.
Bendera dikibarkan, logo ditempel, jargon dilafalkan. Dari mimbar kekuasaan hingga panggung politik, semua mengaku bagian dari NU.
Menjelang 31 Januari suasana memang mendadak riuh. Apalagi saat satu abad panji NU berkibar. Wajah-wajah politik tersenyum di bawah tulisan NU. Seolah paling dekat, bahkan paling NU.
Namun yakinlah, pemandangan itu nyaris selalu musiman. Sesudah tanggal berlalu, NU kembali menjadi simbol. Banyak yang memajang, tetapi sedikit yang sungguh memperjuangkan.
Berbeda rasanya dengan mereka yang benar-benar dekat: tak sibuk mengucap, tak rajin mengklaim. Mereka diam-diam berbuat dan setia membersamai. Mengirim secara rutin amunisi hingga melestarikan tradisi.
Ironisnya, dalam beberapa waktu terakhir, justru merekalah yang kerap dijadikan kambing hitam
oleh mereka yang merasa “punya” NU. Katanya: NU tak berpartai, tapi lupa si kambing hitam lahir dari rahim ulama.
Tak salah memang merasa dekat. Yang keliru adalah ketika merasa menggantikan “menjadi”. Betul apa betul?
NU bukan sekadar identitas kultural. Ia bukan hanya soal sarung, peci, qunut, atau tahlil. NU adalah laku hidup, yang menuntut kesabaran, keseimbangan, dan kerendahan hati. Dan di titik inilah banyak yang gugur, pelan-pelan, tanpa disadari.
Merasa NU itu memang mudah. Cukup menyebut nama kiai, berswafoto dengan simbol, lalu mengklaim kedekatan. Menjadi NU itu berat, karena ia menuntut akhlak: tawadhu’ saat berkuasa, tasamuh saat berbeda, dan tawazun saat digoda kepentingan.
Banyak yang mengaku NU, tetapi lidahnya tajam kepada sesama, tangannya ringan menyingkirkan yang lemah, dan hatinya sibuk menghitung untung-rugi politik. Padahal NU lahir untuk menjaga umat, bukan memanfaatkan mereka.
Sejarah mencatat, NU paham betul soal kekuasaan. Namun NU selalu mengajarkan satu hal penting: politik harus tunduk pada akhlak, bukan sebaliknya.
Ketika klaim “kami NU” dipakai untuk membungkam kritik, ketika kedekatan dengan kiai dijadikan tameng kebijakan, di situlah nilai NU sedang diuji. Jelas itu bukan sekadar dirayakan.
NU tak membutuhkan pengakuan sepihak. Ia hidup di langgar-langgar kecil, menggema di pesantren yang sunyi dari sorotan, dan berdiam dalam doa ibu-ibu muslimat yang tak pernah naik panggung. NU sejatinya adalah kultur, bukan an sich struktur.
Maka Hari Lahir NU seharusnya bukan lomba klaim. Ia adalah ruang bercermin: sudahkah kita meniru akhlaknya, atau baru pandai menyebut namanya?
Dan barangkali, di usia yang kian matang ini, NU tak perlu dibela dengan teriakan. Mungkin cukup dijaga dengan keteladanan. Sebab NU akan tetap hidup selama nilainya dirawat dengan tenang, diamalkan dengan sabar, dan dijalani tanpa merasa paling berhak atas namanya. (*)
*Mantan Jurnalis, kini mengabdi di Parlemen









