banner 728x250
Opini  

Seleksi Sekda Sumenep: Menunggu Bahasa Langitan

Poster pengumuman seleksi terbuka jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Sumenep tahun 2024. Menampilkan foto Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, yang sedang duduk di kursi kerja dengan latar belakang teks pengumuman dan siluet calon pejabat misterius bertanda tanya.
"Sekda bukan sekadar jabatan teknis, ia adalah simpul." — Akhmadi Yasid. Mantan jurnalis ini membedah dinamika pemilihan Sekretaris Daerah Sumenep, di mana prosedur formal kini bersinggungan dengan teka-teki "kuda hitam" dan pengaruh politik tingkat tinggi.

Oleh: AKHMADI YASID*

Akhirnya keluar. Akhirnya muncul juga.

Setelah lama ditunggu. Setelah lama menjadi tanda tanya. Setelah sekian bulan menjadi bahan bisik-bisik. Baik di warung kopi, grup WhatsApp, sampai ruang-ruang ber-AC.

Pengumuman seleksi calon Sekretaris Kabupaten atau Sekretaris Daerah Sumenep akhirnya resmi diumumkan.

Publik pun sedikit bisa menarik napas. Publik sudah tidak perlu sesak nafas.

Setidaknya satu hal menjadi pasti: proses itu ada. Tahapannya ada. Jadwalnya ada. Bukan sekadar wacana. Bukan sekadar “katanya”.

Mulai awal bulan depan, publik Sumenep akan tahu siapa saja tiga nama yang akan dikirim ke pusat. Sesuai aturan. Sesuai prosedur. Pansel mengirim tiga. Pusat memilih satu.

Di atas kertas, sesederhana itu. Tapi di dunia nyata, apakah sesederhana itu? Apakah benar pusat yang sepenuhnya menentukan?

Pertanyaan itu masih debatable. Bisa iya. Bisa juga tidak sepenuhnya. Sebab kita semua paham, dalam birokrasi—apalagi birokrasi jabatan tertinggi ASN—selalu ada ruang-ruang sunyi yang tak tertulis di regulasi.

Katabelece dari bawah? Sangat mungkin.

Bisikan dari daerah? Juga mungkin.

Apalagi kita tahu, Sumenep 1 bukan figur tanpa jaringan. Ada relasi. Ada akses. Ada “man behind the scene” yang tak perlu disebut namanya, tapi semua orang bisa merasakannya.

Jelas hal itu sebuah keniscayaan. Secara logika kekuasaan, pembesar itulah yang sering kali menentukan final call.

Seperti selama ini. Seperti yang sudah-sudah. Bukankah begitu kisanak?

Maka jangan heran jika semua tahapan itu pada akhirnya hanya menjadi formalitas. Terutama ketika sudah masuk fase akhir.

Lalu, siapa yang berpeluang mendapat golden ticket ke pusat? Mari kita bedah pelan-pelan.

Tiga figur sudah cukup mahfum di telinga publik. Kita sebut saja secara abjad, agar adil dan elegan.

Agus Dwi Saputra, Kepala Dinas Pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *