Arif Firmanto, Kepala Bappeda.
Eri Susanto, Kepala Dinas PUTR.
Ketiganya tampak sama-sama pasang kuda-kuda. Pergerakannya terbaca. Gesturnya terasa. Tidak berisik, tapi jelas sedang bersiap.
Namun ketika tiga kuda ini berlari di lintasan yang sama, bukan tak mungkin terjadi tabrakan. Dan di situlah peluang kuda hitam muncul.
Selalu begitu dalam politik birokrasi. Ketika yang diunggulkan saling mengunci, yang tak diperhitungkan justru menyelonong masuk. Diam-diam. Tiba-tiba.
Atau jangan-jangan… bukan kuda hitam?
Bisa saja kuda putih. Kalau yang muncul kuda putih, berarti seperti lagu Rhoma Irama: terlalu. Rhoma Irama juga terbiasa menunggang kuda putih kan, Bro!
Terkadang dalam konteks ini, memang perlu figur jalan ketiga. Figur kompromi. Figur alternatif. Figur pemecah kebuntuan.
Sosok yang bukan hanya bisa mengurusi administrasi, tapi juga mampu mengombinasikan semua kepentingan. Baik eksekutif, legislatif, bahkan yang tak tercatat dalam notulen rapat.
Sebab Sekda bukan sekadar jabatan teknis. Ia adalah simpul. Ia adalah penyeimbang. Ia adalah penerjemah kehendak politik ke dalam bahasa birokrasi.
Siapa pun yang terpilih, ia harus siap menjadi figur pilihan—bukan hanya pilihan pusat, tapi juga pilihan keadaan.
Soal akhirnya siapa yang dipilih? Mari kita tunggu saja. Bahasa langitan biasanya tak pernah salah alamat.
Apalagi bahasa langitan dari langit di sekitar Jagakarsa.
Hehe. Maaf. Selamat pagi.
(*mantan jurnalis, kini mengabdi di parlemen)









