Kadang saya pikir: anak muda, apalagi dari dunia dangdut, biasanya memerlukan waktu lama untuk menemukan karakter. Mereka sering kebingungan: mau jadi penyanyi cengkok klasik? Mau jadi rocker dangdut? Mau jadi model yang kebetulan bisa nyanyi?
Valen tidak terlihat bingung. Ia sudah punya jalurnya sendiri. Jalur yang, kalau ia jaga baik-baik, bisa membawanya jauh.
Industri musik dangdut sekarang sedang berubah. Penonton tidak lagi hanya mencari suara—mereka mencari figur. Sosok yang bisa ditonton, dinikmati, dijadikan ikon. Dan Valen punya semua syarat itu.
Saya tidak tahu sejauh mana kompetisi D’Academy membawanya. Kompetisi hanya panggung sementara. Tapi karakter, kerja keras, dan kejernihan rasa di panggung—itu yang menentukan panjang umur seorang penyanyi.
Valen tinggal menjaga satu hal: tetap menjadi dirinya. Fresh, sederhana, tapi memukau. Jangan ikut-ikutan template yang mematikan banyak bakat muda. Jangan mau dibentuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Kalau ia konsisten, saya tidak melihat Valen hanya sebagai peserta D’Academy. Ia bisa menjadi bintang baru. Bukan bintang yang lahir dari euforia semalam. Tapi bintang yang bersinar karena kualitasnya.
Generasi dangdut berikutnya mungkin sedang kita saksikan lahir. Bahkan mungkin, sudah jelas namanya.
Valen. Anak muda dengan paket komplit. Yang membuat kita percaya bahwa dangdut tidak pernah kehabisan kejutan.
Sayang saya lambat mengikuti euforia Valen. Semoga masih aman. Setidaknya tidak kalah dengan saweran digital yang menggila itu. Benar-benar gila! (*)









