banner 728x250
Opini  

Suara Lantang dalam Kedunguan Politik

Seorang jurnalis menulis opini politik dengan nada lantang, menyoroti pentingnya kritik dan pengawasan demi menjaga demokrasi dari kedunguan dan praktik kongkalikong.

Dan Soal Kritik Itu…

Kritik, sesungguhnya, bukan sekadar keberanian untuk berbeda. Ia adalah cara menjaga kewarasan dalam politik.

Bagi saya, yang duduk dengan kursi hasil suara rakyat, tak hanya berkewajiban membaca naskah peraturan atau menyetujui anggaran.

Tapi harus mendengar denyut krisis. Harus memiliki sense of crisis, kepekaan pada retakan kecil yang mengancam kepercayaan publik.

Masalah dugaan kongkalikong proyek, misalnya, bukanlah cerita baru. Sudah berulang kali dititipkan ke forum-forum rapat.

Tapi suara itu seolah lenyap. Diam yang panjang. Padahal persoalan itu begitu telanjang, nyata, dan bisa dirasakan publik yang tak perlu ijazah hukum untuk mengartikannya Kanda.

Monopoli proyek oleh kelompok tertentu—bukankah itu penghinaan pada semangat demokrasi? Bukankah itu tanda bahwa kita gagal menjaga jarak dari kerakusan?

Maka, membawanya ke ranah publik bukanlah sekadar pilihan. Ia adalah panggilan. Sebab politik bukanlah ruang gelap penuh bisik-bisik. Melaunkan halaman luas di mana rakyat berhak tahu siapa yang bermain di balik angka-angka.

Pertanyaannya: apakah kita akan diam? Tidak, sahabat.

Kita kan tidak harus sama. Dan maaf, kita memang mungkin harus berbeda.

Karena hemat saya berpikir kritis bukan hanya milik intelektual kampus. Ia milik siapa saja yang menolak tunduk pada kebisuan.

Ia milik siapa saja yang percaya, bahwa politik harus kembali pada publik—bukan pada segelintir yang merasa berhak atas proyek, atas uang, atas masa depan.

Sepertinya kita perlu diskusi mendalam. Bukan soal ini saja. Soal apa saja sih hemat saya. Mungkin juga soal semua. Semua yang pernah terjadi. Antara kau, dia dan kepedihan.

Selamat pagi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *