banner 728x250

Wabup KIH: Antara Jadwal Padat dan Kuda di Arena Rakyat

Wakil Bupati (Wabup) Sumenep KH Imam Hasyim mengenakan busana adat hitam dan kalung bunga, tersenyum sambil melambaikan tangan saat menunggangi kuda hias dalam Festival Jaran Serek di tengah kerumunan warga.
TOTALITAS BUDAYA: Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim (KIH), saat menunggangi kuda dalam acara Festival Jaran Serek, Minggu (10/5). Di tengah padatnya jadwal pemerintahan, KIH menyempatkan diri berbaur dengan masyarakat dan melestarikan seni tradisional Madura.

Barangkali di situlah watak disiplin itu bertemu dengan kultur lokal yang sering lentur terhadap waktu. Namun, di tengah padatnya agenda pemerintahan, ada sisi lain dari KIH yang kerap muncul ketika berada di tengah masyarakat: totalitas dalam acara.

Hal itu tampak saat dirinya menghadiri Festival Jaran Serek, sebuah pertunjukan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Madura. Di acara yang digelar Minggu (10/5) pagi, KIH bukan sekadar tamu kehormatan yang duduk di kursi utama lalu pulang setelah memberi sambutan.

Sebagai pimpinan daerah, ia justru didapuk naik ke atas kuda. Praktis suasana dan kerumunan mendadak riuh.

Dengan cukup lincah, KIH menunggang kuda di arena festival. Sesekali ia tampak menyesuaikan gerakan tubuh mengikuti langkah hewan itu. Tidak kaku. Tidak canggung. Bahkan pada satu momen, ia sempat berpose dengan gaya yang mengingatkan orang pada pendekar-pendekar lama.

Tangan terangkat. Tatapan tajam. Tubuh sedikit merendah. Beberapa orang spontan tertawa sambil bertepuk tangan. “Masih seperti anak muda,” celetuk seorang warga dari pinggir arena.

Pose itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi cukup untuk memperlihatkan sisi lain seorang wakil bupati yang di tengah jadwal padat dan formalitas birokrasi, rupanya masih menyimpan kelincahan masa muda.

Mungkin memang begitulah cara KIH menjaga dirinya tetap dekat dengan publik: tidak menjaga jarak terlalu jauh dari keramaian rakyatnya sendiri.

Sebab pada akhirnya, jabatan bukan hanya tentang meja rapat dan pidato resmi. Kadang ia justru hidup dari hal-hal kecil: datang lebih awal, menghargai waktu orang lain, tersenyum ketika acara belum siap, lalu ikut menunggang kuda di tengah festival rakyat tanpa terlihat canggung.

Dan di tengah ritme politik serta birokrasi yang sering melelahkan, Kih tampaknya sedang mencoba tetap menjadi dirinya sendiri: bergerak cepat, tetapi tetap membumi.

“Alhamdulillah saya menikmati, Allah SWT juga memberikan sehat yang luar biasa. Semoga bisa terus memberikan manfaat untuk masyarakat Sumenep,” katanya ringan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *