Oleh: Akhmadi Yasid, Mantan Jurnalis Senior/Anggota DPRD Kabupaten Sumenep
Publik kita memang selalu begitu.
Cepat jatuh cinta. Lebih cepat lagi menaruh harapan.
Begitulah alur pikiran publik bekerja ketika melihat Valen. Pendatang baru. Anak muda. Jebolan Dangdut Academy 7 Indosiar. Datang dengan bakat, dengan suara, dengan aura yang—harus diakui—tidak biasa. Sejak awal tampil, ia bukan sekadar peserta. Ia tampak seperti “calon”.
Maka harapan itu membumbung.
Ekspektasi melesat.
Setinggi-tingginya.
Valen seolah tidak boleh salah. Tidak boleh meleset. Tidak boleh biasa-biasa saja. Publik menggantungkan keinginan mereka padanya, seakan ia harus selalu sempurna. Tanpa cacat. Tanpa jeda. Tanpa hari buruk.
Wajar? Sangat wajar.
Kualitas Valen memang tidak diragukan. Performa demi performanya konsisten. Stabil. Matang. Ia bukan hanya menyanyi, ia “hadir” di panggung. Ditambah lagi latar belakangnya—sejak kecil terbiasa bermain berbagai alat musik—membuat musikalitasnya terasa utuh. Tidak instan.
Tak heran jika kemudian muncul julukan besar: The Next Pangeran Dangdut. Bahkan ada yang melangkah lebih jauh: the next Rhoma Irama. Julukan yang berat. Terlalu berat, mungkin, untuk pundak anak muda seusianya.
Yang menarik, di tengah pujian dan label sebesar itu, Valen tetap tampil sederhana. Gayanya tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat. Ia seperti anak kampung yang tiba-tiba berdiri di panggung nasional, tapi tidak lupa caranya menunduk.
Di situlah publik semakin simpati. Namun justru di situlah persoalannya.
Ketika harapan sudah terlalu tinggi, kesalahan sekecil apa pun menjadi sorotan besar. Hal remeh dibesar-besarkan. Kekurangan kecil seolah menutup semua kelebihan. Padahal, kita lupa satu hal paling mendasar: Valen tetap anak muda. Manusia biasa.
Ia pasti pernah salah. Pernah alpa. Pernah lelah. Pernah merasa asing di tengah sorak-sorai. Dalam kesendiriannya, sangat mungkin ia diam, bertanya pada diri sendiri: apakah aku sudah cukup?
Kita sering lupa bahwa panggung hiburan kejam caranya.
Begitu cepat melahirkan bintang.
Dan sama cepatnya membuat jalan menjadi sunyi.
Banyak nama besar yang hari ini tinggal cerita. Bukan karena mereka tidak berbakat, tapi karena beban harapan terlalu berat, sementara dukungan pelan-pelan menghilang.
Karena itu, Valen tidak cukup hanya dituntut. Ia harus didukung. Terus. Tanpa jeda. Diperlakukan sewajarnya, sebagai manusia yang sedang bertumbuh, bukan sebagai legenda yang dipaksa lahir terlalu dini.
Biarkan ia belajar. Biarkan ia salah. Biarkan ia berkembang.
Jika hari ini kita benar-benar percaya pada bakatnya, maka tugas kita bukan menghakimi ketika ada cela kecil, tapi menjaga agar semangatnya tidak runtuh.
Valen bukan sekadar calon bintang.
Ia manusia biasa—yang sedang kita titipi harapan besar.
Dan harapan, seharusnya, selalu disertai kesabaran. (*)













