Termasuk soal keputusan-keputusan administratif yang tak lepas dari rasa, dan tentang bagaimana menjadi bupati di era Orde Baru tanpa kehilangan akar kemanusiaan.
“Beliau memimpin di zaman yang keras,” ujar Zawawi Imron. “Namun tetap menyisakan kelembutan dalam kebijakan dan keberpihakan pada kemajuan Sumene,” tambahnya.
Pidato itu bukan glorifikasi, melainkan pembacaan jujur atas konteks sejarah, tentang ikhtiar membangun di tengah keterbatasan ruang demokrasi. Termasuk tentang keberanian menata daerah dengan sumber daya yang ada, dan tentang legacy yang masih dikenang hingga kini.
Para tamu menyimak dalam diam. Beberapa pejabat mengenang proyek-proyek dasar yang dulu dirintis. Para tokoh masyarakat menautkan cerita lama dengan tantangan hari ini. Para politisi—yang hidup di era berbeda—membaca ulang pelajaran kepemimpinan dari masa lalu. Di rumah itu, sejarah tak menjadi beban; ia menjadi cermin.
Haul ke-27 ini menegaskan satu hal: kepemimpinan bukan sekadar masa jabatan. Ia adalah jejak. Dan jejak itu, bila ditinggalkan dengan niat baik dan kerja nyata, akan selalu menemukan jalannya kembali—dalam doa, dalam cerita, dalam rumah yang pernah besar karena penghuninya.
Di penghujung acara, doa kembali dipanjatkan. Rumah itu pun kembali sunyi. Namun sunyi yang penuh makna—sebab Sumenep hari ini masih berjalan di atas sebagian jalan yang dulu dibuka oleh mereka yang telah berpulang. Dan pada Minggu pagi itu, HR. Soemar’oem pulang lagi, sebentar, lewat ingatan bersama. (ahy)






Alfatihah Mbah….
Alfatihah Mbah….