banner 728x250

Hari Fraksi di DPC PKB Sumenep: Dari Urusan Jalan hingga Penyalahgunaan Narkoba

Anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep duduk lesehan bersama warga dan tokoh masyarakat di kantor DPC PKB dalam acara "Hari Fraksi" untuk menyerap aspirasi.
Suasana hangat dan akrab saat anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep berdiskusi lesehan dengan warga dalam forum rutin "Hari Fraksi" di kantor DPC PKB Sumenep, Jumat. (Foto: Dok. Istimewa)

“Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Jangan sampai persoalan narkoba merusak generasi muda di Lenteng,” ungkapnya.

Forum siang itu juga menghadirkan sejumlah tokoh dan aktivis. Salah satunya advokat Marlaf Sucipto. Ia menyebut Hari Fraksi sebagai momentum penting karena membuka ruang sinergi antara masyarakat sipil dan parlemen.

Menurutnya, forum seperti itu memberi ruang advokasi yang lebih nyata dan langsung.

Dalam kesempatan tersebut, Marlaf kembali menyampaikan persoalan tanah warga di Tapakerbau, Gresik Putih, yang selama ini terus ia dampingi. Ia menegaskan komitmennya untuk tetap memperjuangkan hak-hak warga.

Selain persoalan agraria, ia juga menyoroti banyaknya kerusakan jalan di jalur Ellak Daya menuju Rubaru yang dinilai membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah.

Diskusi terus berjalan cair. Sejumlah aktivis lain yang hadir turut menyampaikan berbagai persoalan daerah, mulai dari pelayanan publik hingga pembangunan infrastruktur.

Menariknya, forum itu tidak berhenti pada penyampaian aspirasi semata. Satu per satu anggota DPRD yang hadir memberikan tanggapan langsung. Kadang serius, kadang diselingi tawa kecil yang membuat suasana terasa akrab.

Tidak tampak jarak yang terlalu jauh antara rakyat dan wakilnya. Suasananya begitu hangat terasa penuh kekeluargaan.

Di tengah suasana politik yang sering dianggap penuh formalitas, Hari Fraksi di DPC PKB Sumenep mencoba menghadirkan wajah lain politik: lebih sederhana, lebih mendengar, dan lebih membumi.

Sore perlahan turun. Percakapan masih terus berlangsung di lobi kantor partai itu. Sebagian orang mulai berdiri, berjabat tangan, lalu pulang membawa harapan bahwa suara mereka benar-benar didengar.

Dan di ruang sederhana itu, politik tampak tidak selalu harus hadir dalam podium besar dan kalimat-kalimat tinggi. Kadang ia cukup hadir lewat kursi plastik, kopi hangat, dan kesediaan untuk saling. (ahy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *