Bagi Kades Bluto itu, kebersamaan itulah yang menjadi bagian paling berharga dari kegiatan tersebut.
“Yang membuat saya bangga adalah kekompakan anggota. Mereka antusias mengikuti kegiatan dari pagi sampai selesai,” katanya.
Antusiasme itu bertahan hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 12.00 WIB.
Tiga jam di Pantai Matahari pun terasa singkat. Lomba menjadi pemantik keceriaan, senam menjadi aktivitas bersama, sementara pakaian merah putih menjadi penanda bahwa seluruh kegiatan tersebut merupakan bagian dari perayaan kemerdekaan.
Tidak ada kemewahan dalam perayaan itu. Hanya sebuah sanggar senam, sekelompok anggota, kawasan pantai, dan kegiatan sederhana yang dikemas penuh kegembiraan.
Namun justru dari kesederhanaan itulah makna kebersamaan terasa kuat.
Bagi Sanggar Senam Tera’ Bulen, merayakan kemerdekaan bukan hanya tentang memasang bendera atau mengikuti seremoni.
Kemerdekaan juga dapat diisi dengan hal-hal positif yang membuat orang-orang semakin dekat satu sama lain.
Di Pantai Matahari, semangat itu hadir dalam satu pagi yang penuh warna. Merah putih melekat pada pakaian, tetapi semangatnya tumbuh dari tawa, olahraga, dan kekompakan yang mereka bangun bersama.
Pagi 17 Agustus itu akhirnya bukan sekadar catatan tentang sebuah kegiatan Agustusan. Ia menjadi cerita kecil tentang bagaimana kemerdekaan dirayakan dengan cara yang sederhana, hangat, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sanggar Senam Tera’ Bulen ini merupakan akronim dari Tekad Raih Burn and Lean yang dapat diartikan sebagai upaya meraih kesehatan dengan membakar lemak agar tubuh lebih ramping. “Yang terpenting gerak aktif, hidup positif dan ramping itu bonua,” pungkas alumni Fakultas Hukum Unija itu. (*/mkt)







