banner 728x250

Mengenal Mendiang Haji Eksan: Politisi yang Menjaga Tengka

Oleh: Akhmadi Yasid (Anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep)

Ada orang yang kehadirannya terasa bukan karena keras suaranya. Bukan pula karena paling sering berdiri di depan podium. Tetapi karena sikapnya, tutur katanya, dan caranya memperlakukan orang lain.

H. Eksan adalah salah satunya. Dalam politik, orang seperti ini barangkali tidak selalu menjadi pusat perhatian. Ia bukan singa podium. Bukan pula tipe politisi yang harus meninggikan suara agar didengar.

Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia berbicara dengan santun, menempatkan kata pada tempatnya, dan menjaga perasaan orang lain dalam setiap percakapan.

Ia tahu bahwa politik bukan semata-mata soal siapa paling keras bersuara. Politik juga tentang bagaimana menjaga hubungan, merawat komunikasi, dan memastikan perbedaan tidak menjelma menjadi permusuhan.

Dalam istilah Madura, ia pandai ajege tengka. Menjaga sikap. Menjaga perilaku. Menjaga kehormatan diri sekaligus menghormati orang lain.

Bagi saya, H. Eksan adalah politisi dengan paket pengalaman yang lengkap. Sebelum duduk di kursi DPRD Sumenep, ia telah melewati jalan panjang pengabdian sebagai kepala desa selama tiga periode. Ia memahami politik bukan hanya dari ruang rapat, tetapi juga dari kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.

Ia tahu bagaimana berhadapan dengan warga, mendengar keluhan, menimbang persoalan, dan mengambil keputusan di tengah beragam kepentingan.

Ketika akhirnya terpilih sebagai anggota DPRD Sumenep dari Fraksi PKB, ia datang dengan bekal pengalaman yang tidak sedikit. Usianya telah matang. Pengalamannya pun telah teruji. Ia tidak perlu belajar terlalu lama untuk memahami bahwa politik membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ia juga membutuhkan kebijaksanaan.

Sayangnya, perjalanan itu terlalu singkat. H. Eksan dilantik pada 22 Agustus 2024. Baru dua tahun lewat dua bulan ia menjadi bagian dari keluarga besar DPRD Sumenep. Waktu yang sebenarnya belum cukup panjang untuk menuntaskan banyak hal, tetapi ternyata cukup untuk meninggalkan kesan yang dalam bagi orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Dan tadi malam, sekitar pukul 20.00, ia pergi untuk selamanya. Kabar itu seperti menghentikan waktu sejenak.

Tak pernah terbayang bahwa perjalanan yang biasa kami lalui bersama akan menjadi perjalanan terakhir. Setahu saya, tidak ada kabar tentang penyakit kronis yang selama ini menggerogoti kesehatannya. Ia menjalani hari-hari seperti biasa. Bercanda, berbincang, dan tertawa sebagaimana yang saya kenal selama ini.

Bahkan dalam perjalanan menuju Surabaya, ada sesuatu yang semula saya anggap biasa saja. Kami berangkat dari Sumenep seperti biasanya. Kali ini ada agenda bimbingan teknis yang hendak diikuti.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, suasana di kendaraan biasanya ramai oleh percakapan dan banyolan. H. Eksan punya cara sendiri untuk mencairkan suasana. Ia bisa membuat perjalanan panjang terasa pendek, membuat persoalan rumit sejenak terasa ringan.

Namun, selepas Pamekasan, ia lebih banyak tidur. Awalnya saya mengira ia hanya kelelahan. Mungkin ingin beristirahat setelah perjalanan yang cukup panjang. Ketika kendaraan sampai di Suramadu, tidurnya bahkan terdengar seperti orang yang mendengkur pulas.

Beberapa kali saya menaruh curiga. Ada sesuatu yang terasa tidak biasa. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa ia tiba-tiba tidak sadarkan diri.

Panik, tentu saja. Saya segera melajukan kendaraan menuju RSU dr. Soetomo. Ada harapan yang diam-diam saya genggam sepanjang perjalanan itu. Harapan bahwa ia masih bisa diselamatkan. Harapan bahwa semua ini hanya keadaan darurat yang sebentar lagi akan berlalu.

Tetapi sesampainya di UGD, dokter menyatakan bahwa ia sudah tiada. Kalimat itu begitu pendek. Namun, rasanya seperti meruntuhkan begitu banyak hal sekaligus.

Di hadapan kenyataan seperti itu, manusia memang tak punya banyak kuasa. Kita boleh merencanakan perjalanan, menyusun agenda, merancang masa depan, bahkan merasa bahwa besok masih akan berjalan seperti biasa. Tetapi hidup dan mati tetap menjadi urusan Yang Maha Kuasa.

Malam itu, saya bukan hanya kehilangan seorang rekan seperjalanan. Saya kehilangan seseorang yang selama ini ikut memberi warna dalam perjalanan politik dan keseharian kami.

Ada satu hal yang mungkin baru benar-benar terasa ketika seseorang telah pergi: betapa pentingnya kehadirannya selama ini.

Dalam politik, suasana tidak selalu mudah. Ada perbedaan pandangan, silang pendapat, kepentingan yang beragam, bahkan kebuntuan komunikasi yang kadang membuat persoalan sederhana terasa rumit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *