Di tengah situasi seperti itu, H. Eksan punya peran yang khas. Ketika suasana mulai tegang, ia hadir dengan banyolannya. Bukan untuk meremehkan persoalan, melainkan untuk mencairkan ketegangan. Ia tahu kapan harus serius dan kapan orang-orang membutuhkan sedikit tawa agar bisa kembali berpikir jernih.
Ketika komunikasi menemui jalan buntu, ia bisa menjadi penengah. Ketika persoalan terasa berat, ia hadir sebagai penyeimbang. Ia tidak selalu harus tampil paling depan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.
Kadang-kadang, justru orang yang tidak banyak bicara itulah yang mampu membuat semua orang kembali mau mendengarkan.
Saya kira, itulah salah satu pelajaran penting dari sosok H. Eksan. Bahwa dalam politik, tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan suara tinggi. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan dengan perdebatan panjang.
Ada kalanya, persoalan selesai karena seseorang cukup bijaksana untuk menjaga suasana, cukup santun untuk menghormati lawan bicara, dan cukup rendah hati untuk tidak merasa harus selalu menang.
Ia bukan politisi yang kehilangan ketegasan karena kesantunannya. Ia justru menunjukkan bahwa ketegasan dan kelembutan bisa berjalan beriringan.
Dan di tengah dunia politik yang kerap riuh, karakter seperti itu menjadi sesuatu yang sangat berharga.
H. Eksan telah membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang menjadi pusat perhatian. Ada pengabdian yang tumbuh dari hal-hal sederhana: kesediaan mendengar, kemampuan meredakan ketegangan, kebiasaan menjaga ucapan, dan kemauan memperlakukan siapa pun dengan hormat.
Barangkali itulah yang akan paling kami rindukan kelak. Bukan semata-mata kursinya di Komisi III DPRD Sumenep. Bukan pula kehadirannya dalam agenda-agenda kedewanan. Melainkan suasana yang ia bawa ketika berada di antara kami.
Banyolan-banyolannya. Tutur katanya. Sikapnya yang penuh tata krama. Dan caranya menjaga tengka, bahkan ketika politik sedang tidak baik-baik saja.
Kini, perjalanan itu benar-benar telah berakhir. Kita semua terkejut. Kita semua berkabung. Keluarga kehilangan orang tercinta. Fraksi kehilangan seorang sahabat. DPRD Sumenep kehilangan seorang anggota yang membawa pengalaman panjang dari desa ke gedung parlemen.
Dan saya, yang malam itu berada di sampingnya dalam perjalanan menuju Surabaya, harus menerima kenyataan bahwa kebersamaan yang selama ini terasa biasa ternyata menyimpan perpisahan yang tak pernah saya bayangkan.
Ada perjalanan yang bisa kita ulang. Ada agenda yang bisa dijadwalkan kembali. Ada percakapan yang bisa dilanjutkan esok hari.
Tetapi tidak dengan kehidupan. Saya tidak tahu apakah malam itu ada tanda yang seharusnya lebih cepat saya pahami. Saya hanya tahu bahwa saya telah berusaha membawanya secepat mungkin ke rumah sakit. Selebihnya, ada batas yang tak mampu ditembus oleh usaha manusia.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Terima kasih atas pengalaman, persahabatan, dan tawa yang pernah kita bagi. Terima kasih telah menunjukkan bahwa seseorang bisa menjadi penting tanpa harus menjadi paling keras, bisa didengar tanpa harus meninggikan suara, dan bisa dihormati tanpa harus membuat orang lain merasa kecil.
Ragamu memang telah tiada. Tetapi orang-orang yang pernah merasakan kebaikanmu akan menyimpan kenangan tentangmu dengan cara mereka masing-masing.
Kursimu mungkin kelak akan ditempati orang lain. Agenda rapat akan terus berjalan. Perdebatan politik akan kembali memenuhi ruangan. Waktu akan memaksa semuanya bergerak maju.
Namun, ada ruang yang tak mudah digantikan: ruang yang selama ini kau isi dengan kesantunan, kebijaksanaan, dan banyolan-banyolan sederhana yang membuat suasana terasa lebih manusiawi.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kekuatan dan ketabahan.
Selamat jalan, Kak Jih. Ragamu tiada, tetapi tentangmu tak akan pernah hilang. (*)







