Sementara itu, Kepala Desa Bluto, Heni Susilowati, menyampaikan pesan kepada para mahasiswa bahwa perjalanan mereka masih panjang.
KKN, kata dia, seharusnya tidak berhenti sebagai sebuah kewajiban akademik. Pengalaman hidup bersama masyarakat selama berada di desa diharapkan menjadi bekal ketika mahasiswa kembali melanjutkan perjalanan masing-masing.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi justru di situlah maknanya. Sebab desa bukan sekadar tempat mahasiswa menjalankan program kerja. Desa adalah ruang belajar yang sesungguhnya. Di sana mahasiswa bertemu dengan kehidupan yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang kelas.
Mereka belajar bagaimana masyarakat bekerja, bagaimana sebuah persoalan diselesaikan, bagaimana komunikasi dibangun, dan bagaimana sebuah program harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan warga.
Dan malam itu, setelah seluruh rangkaian acara selesai, suasana berubah menjadi lebih cair. Acara ditutup dengan ramah tamah dan pemotongan tumpeng.
Menariknya, pemotongan tumpeng dilakukan bersama warga dari berbagai RT. Tidak ada sekat antara mahasiswa dan masyarakat. Semua duduk dalam suasana yang sama: merayakan kemerdekaan sekaligus melepas para mahasiswa yang telah menjadi bagian dari kehidupan Desa Bluto.
Bagi mahasiswa KKN Unija, malam 17 Agustus itu bukan sekadar akhir dari sebuah program pengabdian. Ia menjadi semacam tanda baca dari sebuah cerita yang telah mereka tulis bersama warga Desa Bluto.
Besok mereka kembali menjadi mahasiswa. Kembali ke kampus. Melanjutkan kuliah dan mengejar cita-cita. Tetapi Desa Bluto mungkin akan selalu menjadi salah satu halaman dalam perjalanan mereka.







