Wakil rakyat dari Fraksi PKB itu juga mempertanyakan apakah prosedur medis telah diterapkan sesuai standar. Ia menyebut dugaan oksigen tidak berfungsi sebagai tanda adanya masalah serius pada fasilitas.
Anggota DPRD ini menilai lambannya respons saat pasien mengalami sesak napas harus ditelusuri secara objektif. Ia menegaskan bahwa “penyelidikan internal tanpa transparansi hanya akan memperbesar keraguan publik.”
Sebagai bagian dari Badan Anggaran (Banggar), ia juga akan memeriksa realisasi APBD pada Puskesmas Bluto. Ia menduga bisa saja terdapat persoalan anggaran yang berdampak pada kualitas pelayanan.
“Kalau ada masalah pada penggunaan anggaran, itu harus dibuka dan dievaluasi,” katanya. Ia memastikan akan mendalaminya dalam mekanisme pengawasan anggaran daerah.
Politisi PKB tersebut menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kematian pasien H harus menjadi momentum perbaikan layanan kesehatan. Ia meminta kasus ini ditangani serius agar tidak terulang pada pasien lain. (mkt)







