SUMENEP, taneyan.id – Pagi Minggu, 15 Februari 2026, rumah besar itu kembali bernafas. Bukan oleh hiruk pikuk kekuasaan seperti puluhan tahun silam, melainkan oleh lantunan doa, fatihah, dan Yasin yang mengalir khidmat dari para tamu.
Sejumlah tokoh Sumenep, dari pejabat, politisi, tokoh masyarakat, hingga para kiai, berkumpul dalam satu ruang kenangan: rumah keluarga almarhum HR. Soemar’oem Bupati Sumenep periode 1985–1995.
Rumah itu pernah besar karena penghuninya. Kini, ia menjadi saksi kesetiaan ingatan. Di sanalah haul ke-27 almarhum digelar, sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar ritual tahunan.
Ia adalah temu lintas generasi, lintas peran, lintas pandangan—semuanya bertaut pada satu nama yang pernah menakhodai Sumenep di masa Orde Baru.
Acara diawali dengan pembacaan fatihah, dilanjutkan Yasin bersama. Suasana hening, wajah-wajah tertunduk, seolah menyelami ulang perjalanan seorang pemimpin yang mengabdi dalam zaman yang serba terpusat, namun dituntut tetap peka pada denyut daerah.
Puncak acara diisi pidato obituari oleh budayawan nasional D. Zawawi Imron. Dengan bahasa yang tenang dan bertuah, ia mengupas sepak terjang HR. Soemar’oem, tentang kepemimpinan yang tumbuh dari kesadaran budaya.






Alfatihah Mbah….
Alfatihah Mbah….