banner 728x250

100 Hari Kholilurrahman-Sukriyanto: Janji, Jejak, dan Jalan Terjal

Salah satu tantangan besar yang dihadapi duet Kholil-Sukri adalah soal loyalitas birokrasi. Banyak aparatur sipil yang masih bersikap menunggu: belum sepenuhnya bergerak seirama dengan visi kepala daerah baru. Akibatnya, sejumlah program tersendat bukan karena konsepnya buruk, tapi karena mesin di bawahnya belum sepenuhnya percaya atau diberdayakan.

Rakyat Pamekasan menunggu bukti, bukan hanya pidato. Masyarakat bawah sudah terlalu sering dijanjikan. Maka, 100 hari seharusnya jadi momentum untuk menunjukkan ketegasan: apakah pemerintahan ini siap meninggalkan pola lama dan benar-benar membangun dari bawah?

Rekomendasi Kritis untuk Pemerintahan Kholil-Sukri

Sebagai wartawan senior yang tumbuh dari desa-desa Pamekasan dan hidup bersama denyut rakyat, saya ingin menyampaikan beberapa catatan kritis:
1. Perkuat birokrasi, bukan hanya ganti orang. Bupati dan wakil harus memastikan ASN benar-benar memahami arah kebijakan. Rotasi boleh dilakukan, tapi pembinaan dan pembekalan jauh lebih penting.
2. Jangan larut dalam pencitraan. Media sosial dan baliho bukan ukuran keberhasilan. Rakyat ingin air bersih mengalir, jalan mulus sampai dusun, dan pasar rakyat yang tidak kumuh.
3. Jaga komunikasi dengan rakyat kecil. Bupati tidak boleh hanya dekat dengan elite. Dengarkan suara nelayan, petani, tukang becak, dan santri. Mereka bukan objek pembangunan—mereka adalah subjek utama.
4. Beri teladan moral dan kesederhanaan. Di tengah krisis kepercayaan pada politik, pemimpin yang bersih, sederhana, dan bisa diajak bicara akan lebih bermakna daripada program-program mewah tanpa ruh.

Akhirnya, Jalan Masih Panjang

Seratus hari adalah detik-detik pertama dalam sebuah maraton lima tahun. Pemerintahan ini masih punya waktu dan peluang untuk membuktikan bahwa janji-janji yang diucapkan bukan sekadar kata-kata, tapi niat tulus untuk menyejahterakan.

Sebagaimana orang Madura bilang, “sapo’ ateh bisa ta’ aer, tapi sapo’ jerok tak bisa ta’ bassa”—kulit bisa dikeringkan, tapi hati yang terluka tak mudah diobati. Rakyat sudah terlalu lama dikecewakan. Maka tugas Kholilurrahman dan Sukriyanto adalah bukan hanya memimpin, tapi menyembuhkan. Bukan hanya membangun, tapi juga merawat harapan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *