Harapan baru kini disiapkan untuk tahun depan. Pemdes Bluto telah berkoordinasi dengan Dinas Perkimhub Sumenep, melalui salah satu anggota DPRD, untuk mengupayakan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi Satriya.
“Insyaallah tahun depan beliau mendapatkan RTLH. Kami terus mengawal agar prosesnya berjalan,” kata Hendra.
Di Temor Lorong, rumah berusia puluhan tahun itu masih berdiri, meski beberapa bagiannya mulai rapuh. Namun kepedulian warga dan komitmen pemerintah desa membuat harapan baru tumbuh—pelan, tetapi nyata.
Bagi Satriya, bantuan apa pun yang datang bukan hanya soal materi, tetapi tanda bahwa ia tidak dibiarkan berjalan sendiri.
Krisdiantoro, salah satu perangkat desa yang rumahnya dekat dengan Satriya memastikan memang sudah sering diusulkan. “Kalau bantuan pusat sering diusulkan, tapi sampai sekarang memang belum realisasi,” katanya.
Namun dia memastikan Satriya sudah sering dapat bantuan dari fasilitasi pemdes. “Kalau beras Bulog itu sering Miftah cucunya yang mengambilkan. Bahkan pernah dapat BLT DD juga,” ungkapnya.
Salah satu pendamping PKH Kecamatan Bluto, Kiswatun Hasanah, mengaku sudah mengecek data soal Satriya. Menurutnya, dalam status desil yang biasa digunakan sebagai indikator kesejahteraan sosial, Satriya pada posisi desil 6.
“Kita coba koordinasikan agar segera berganti ke desil 1 biar segera dapat bantuan,” katanya.
Bersama tim pendamping PKH lainnya, Kiswatun mengunjungi Satriya. Menurut dia, setelah menanyakan langsung ternyata Satriya memang sering mendapat bantuan. Dia hanya tidak mendapatkan bantuan seperti PKH atau BPNT.
“Buk Satriya bukan sebatang kara karena anaknya ternyata sudah sukses di Jakarta. Semoga Buk Satriya ke depan bisa lebih sejahtera,” pungkasnya. (mkt)







