Menurutnya, hal ini tak hanya efisien dari sisi manajemen usaha, tetapi juga berdampak langsung pada pemberdayaan masyarakat sekitar.
“Kami menerapkan integrated farming system, di mana semua potensi pertanian, peternakan, dan perikanan dikelola sebagai satu kesatuan ekosistem. Limbah salah satu sektor bisa menjadi input untuk sektor lain, sehingga lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya kepada taneyan.id Selasa (29/7/2025).
Royhan menambahkan, pengembangan komoditas tembakau menjadi langkah baru yang menjanjikan. Selain mengikuti karakteristik agroklimat lokal, pengelolaan tembakau juga membuka peluang usaha baru bagi warga sekitar yang sudah akrab dengan budaya menanam tembakau sejak lama.
“Kami ingin terus menambah volume usaha, bukan sekadar ekspansi, tapi juga demi menciptakan lapangan kerja baru, khususnya bagi pemuda desa,” jelasnya.
Ke depan, Nurani Farm juga tengah menjajaki kerjasama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan pertanian, termasuk program magang bagi mahasiswa serta pelajar SMK pertanian.
Harapannya, Nurani Farm bisa menjadi laboratorium terbuka sekaligus model pemberdayaan berbasis desa yang mandiri dan berkelanjutan. (ahy)













