“Tanaman cabai ini kami tanam di botol bekas ukuran tiga liter dengan bambu sebagai penyangga. Semua pembiayaan dilakukan swadaya tanpa mengambil kas RT,” jelas Imam.
Menurutnya, program ini melibatkan semua kalangan mulai anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga orang tua. Warga bukan hanya menanam, tetapi juga belajar, bekerja sama, dan menjaga lingkungan.
Keunikan kampung cabai terletak pada media tanamnya yang menggunakan botol plastik bekas. Inovasi ini bahkan mendapat pengakuan balai desa sebagai program pertama di Sumenep.
Jenis cabai yang ditanam adalah cabai rawit lokal dengan tingkat kepedasan tinggi. Pupuk yang digunakan merupakan pupuk organik buatan warga sehingga lebih ramah lingkungan dan sehat.
Imam Efendi berharap Kampung Cabai bisa menjadi contoh gerakan produktif dari masyarakat. “Semoga penanaman cabai seperti ini bisa ditiru, sehingga ruang sempit pun bisa dimanfaatkan,” pungkasnya. (mkt)







