banner 728x250

Bambang Irianto dan Kenangannya untuk Sumekar

Foto potret Bambang Irianto mengenakan seragam dinas cokelat (ASN) dengan papan nama di dada, sedang duduk dan tersenyum ke arah kamera
Almarhum Bambang Irianto, mantan pejabat eselon II Pemerintah Kabupaten Sumenep yang meninggalkan jejak monumental pada tata kota dan sistem pendidikan digital di Kota Sumekar.

Kawasan perkantoran Pemkab Sumenep di-face off. Diubah wajahnya. Dirapikan orientasinya. Puncaknya, Taman Adipura dirombak total. Tujuannya agar simetris, serasi, dan berhadapan anggun dengan Masjid Agung.

Menariknya, Bambang bukan lulusan teknik sipil. Bukan pula arsitek. Apalagi ahli tata kota modern.

Tapi ia punya satu keahlian yang sering diremehkan: mengelola orang. Mengorkestrasi tim. Ia tahu kapan harus mendengar, kapan harus memutuskan. Seperti dirigen, ia tidak memegang alat musik, tapi menentukan irama.

Saat dipercaya menjadi Kadisdik, ceritanya berulang. Lagi-lagi bukan ahli di bidangnya. Tapi justru di sanalah ia menonjol.

Terobosan digital school lahir di masanya. Ia menghubungkan guru, teknologi, dan kebijakan dalam satu tarikan napas. Kolaborasi menjadi kata kunci. Sebuah inovasi, yang begitu peka pada zaman.

Belakangan, kesehatannya menurun. Ia tahu itu. Ia sadar batas. Maka ia memilih mengurangi aktivitas. Pelan-pelan mundur dari hiruk-pikuk.

Hingga akhirnya memilih hidup santai di rumahnya di Bangselok. Jauh dari rapat. Jauh dari target. Lebih dekat pada waktu.

Memang benar, semua ada masanya. Ada masa memimpin. Ada masa merancang. Ada masa bekerja tanpa henti. Dan ada masa untuk pulang. Tuhan, rupanya, sudah menyiapkan akhir cerita itu dengan sangat rapi.

Menjelang pagi, kabar itu datang. Mengejutkan. Menyentak. Tapi juga mengingatkan: bahkan orang paling sibuk pun, pada akhirnya, harus berhenti.

Selamat jalan, teman baik.
Jejakmu tertinggal di kota ini. Di taman, di gedung, di sistem, dan di ingatan banyak orang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *