Oleh: AKHMADI YASID (*Mantan Jurnalis, kini mengabdi di Parlemen)
ADA orang yang tumbuh karena momentum. Ada pula yang matang karena waktu. Yang pertama sering meledak cepat, lalu redup pelan-pelan. Yang kedua, pelan menanjak, tapi kokoh ketika sampai di puncak.
Sosok satu ini berada pada kategori kedua. Karakter tegas, pendirian kuat, dan gaya komunikasi yang bernas, itu kesan yang sulit dibantah. Ia bukan tipe pejabat yang gemar berputar-putar dalam kalimat. Ketika berbicara, jelas arah dan maksudnya.
Apalagi menyangkut tugas. Tidak ada ruang abu-abu untuk sesuatu yang memang harus hitam atau putih. Terlihat dari lakon saat ia berada di lingkungan birokrasi. Begitu panjang. Begitu kompleks.
Jelas sekali sosoknya bukan karbitan. Perjalanan birokrasi yang ia tempuh memang panjang. Dari staf biasa, lalu sekcam. Menjadi camat. Naik menjadi kabag. Dipercaya sebagai kadis. Bahkan tiga kali memimpin dinas.
Sebuah kawah candradimuka yang tidak instan. Ia ditempa oleh waktu, diuji oleh dinamika, dan dibentuk oleh pengalaman.
Maka ketika pada akhirnya ia mencapai puncak karier sebagai Sekretaris Daerah, publik memaklumi. Tidak ada yang benar-benar terkejut. Karena prosesnya terbaca.
Tangga seleksi dilalui satu per satu. Semua tahapan dijalani. Hingga ketika tersisa tiga kandidat, di situlah publik mulai membaca arah angin. Ya, Agus Dwi Saputra, resmi terpilih menempati jabatan tertinggi birokrasi itu.
Dan benar saja. Kamis sore itu, di Graha Aria Wiraraja, salah satu tempat penting di Pemkab Sumenep, ia resmi dilantik menjadi Sekda Kabupaten Sumenep atau lazim disebut “Sumenep 3”. Sebuah posisi strategis di jantung birokrasi Kota Sumekar.
Tak mudah melewati semua proses itu. Apalagi dalam kompetisi yang diikuti figur-figur kuat lainnya. Tetapi pengalaman panjang sering kali memberi satu keunggulan: ketenangan. Dan ketenangan adalah mata uang mahal dalam politik birokrasi.
Beberapa hari sebelum pelantikan, saya sempat bertemu dengannya di RSUD dr Moh. Anwar. Ia datang santai, memeriksakan diri di salah satu poli. Tidak ada gestur berlebihan. Tidak ada euforia. Tapi auranya—entah mengapa—seperti sudah memberi sinyal.
Wajahnya begitu teduh. Seolah mewakili harapan dan asa masa depan birokrasi. “Bismillah Mas, saya ini prajurit. Siap selalu apa kata pimpinan,” ujarnya singkat.
Kalimat itu pendek. Tapi mencerminkan watak birokrat tulen. Paham posisi. Mengerti ritme. Tahu kapan harus maju, dan kapan berhenti sejenak. Ceplas-ceplos, tapi terukur. Tegas, tapi tidak meledak-ledak. Itulah gaya pejabat yang kenyang pengalaman.
Sejak awal, ia memang diperhitungkan. Bukan karena sensasi. Tapi karena rekam jejak. Di birokrasi, rekam jejak adalah bahasa yang paling jujur. Kini tantangan sesungguhnya dimulai.
Sekda bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah dirigen orkestra birokrasi. Mengharmonikan OPD. Menjaga ritme antara visi kepala daerah dan realitas lapangan. Menjadi jembatan antara kebijakan dan pelaksanaan.
Dan tentu saja, menjadi mitra strategis DPRD. Sebuah pertalian struktur yang oleh UU terposisi saling sejajar, saling melengkapi.
Selamat bertugas, Pak Agus. Selamat memasuki babak baru pengabdian.
Kita akan bertemu di forum-forum rapat di Gedung DPRD Sumenep, ruang di mana ketegasan, kejernihan berpikir, dan ketahanan mental benar-benar diuji.
Karena pada akhirnya, sejarah pejabat tidak ditulis saat pelantikan. Ia ditulis dalam keputusan-keputusan yang diambil setelahnya. (*)








