banner 728x250

Wabup KIH: Antara Jadwal Padat dan Kuda di Arena Rakyat

Wakil Bupati (Wabup) Sumenep KH Imam Hasyim mengenakan busana adat hitam dan kalung bunga, tersenyum sambil melambaikan tangan saat menunggangi kuda hias dalam Festival Jaran Serek di tengah kerumunan warga.
TOTALITAS BUDAYA: Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim (KIH), saat menunggangi kuda dalam acara Festival Jaran Serek, Minggu (10/5). Di tengah padatnya jadwal pemerintahan, KIH menyempatkan diri berbaur dengan masyarakat dan melestarikan seni tradisional Madura.

Oleh: Akhmadi Yasid (Anggota DPRD Sumenep)

Di sela denting telepon yang tak pernah benar-benar diam, mobil dinas yang bergerak dari satu titik ke titik lain, begitulah kesehariannya. Tak jarang jadwal yang menumpuk nyaris tanpa jeda, publik makin akrab dengan gaya dan sosok Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim.

Salah satunya tentang ini: disiplin terhadap waktu. Di lingkaran tertentu, terutama di grup-grup WhatsApp internal dan jejaring politik lokal, lelaki itu lebih akrab dipanggil “KIH”. Singkatan sederhana dari namanya. Ringkas. Cepat. Seperti ritme hari-harinya yang nyaris tak pernah lambat.

Pagi belum sepenuhnya terang, jadwal sudah berbaris. Dari agenda pemerintahan, menghadiri undangan warga, rapat internal, acara keagamaan, hingga kegiatan partai sebagai Ketua DPC PKB Sumenep. Semuanya kadang bertumpuk dalam satu hari yang sama.

Di titik itulah manajemen waktu menjadi semacam seni bertahan. KIH tampaknya memahami benar bahwa jabatan bukan hanya soal hadir, melainkan soal bagaimana memastikan dirinya tiba tepat waktu, berpindah cepat, tetapi tetap terlihat tenang.

Maka tak heran, koordinasi dengan panitia acara hampir selalu dilakukan. Kadang sekadar memastikan lokasi. Kadang mencocokkan durasi sambutan. Kadang hanya bertanya sederhana: “Sudah siap dimulai?” ujarnya ringan.

Bagi sebagian orang, itu terlihat sepele. Tetapi bagi KIH, keterlambatan satu agenda bisa merembet ke agenda berikutnya. Jadwal yang mepet membuat semuanya harus dihitung dengan ketat.

Suatu ketika, ia bahkan datang terlalu awal ke sebuah acara di wilayah kecamatan. Saat kendaraan rombongan tiba, suasana masih lengang. Hanya beberapa panitia terlihat sibuk mondar-mandir menata kursi. Peserta belum datang. Panggung pun belum benar-benar siap.

“Masih jam karet,” bisik seseorang sambil tertawa kecil. KIH juga hanya tersenyum.

Tak ada wajah kesal. Tak ada nada mengeluh. Ia justru memilih duduk santai sambil bercengkerama ringan dengan panitia yang tampak kikuk karena tamunya datang lebih cepat dari perkiraan.

Barangkali di situlah watak disiplin itu bertemu dengan kultur lokal yang sering lentur terhadap waktu. Namun, di tengah padatnya agenda pemerintahan, ada sisi lain dari KIH yang kerap muncul ketika berada di tengah masyarakat: totalitas dalam acara.

Hal itu tampak saat dirinya menghadiri Festival Jaran Serek, sebuah pertunjukan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Madura. Di acara yang digelar Minggu (10/5) pagi, KIH bukan sekadar tamu kehormatan yang duduk di kursi utama lalu pulang setelah memberi sambutan.

Sebagai pimpinan daerah, ia justru didapuk naik ke atas kuda. Praktis suasana dan kerumunan mendadak riuh.

Dengan cukup lincah, KIH menunggang kuda di arena festival. Sesekali ia tampak menyesuaikan gerakan tubuh mengikuti langkah hewan itu. Tidak kaku. Tidak canggung. Bahkan pada satu momen, ia sempat berpose dengan gaya yang mengingatkan orang pada pendekar-pendekar lama.

Tangan terangkat. Tatapan tajam. Tubuh sedikit merendah. Beberapa orang spontan tertawa sambil bertepuk tangan. “Masih seperti anak muda,” celetuk seorang warga dari pinggir arena.

Pose itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi cukup untuk memperlihatkan sisi lain seorang wakil bupati yang di tengah jadwal padat dan formalitas birokrasi, rupanya masih menyimpan kelincahan masa muda.

Mungkin memang begitulah cara KIH menjaga dirinya tetap dekat dengan publik: tidak menjaga jarak terlalu jauh dari keramaian rakyatnya sendiri.

Sebab pada akhirnya, jabatan bukan hanya tentang meja rapat dan pidato resmi. Kadang ia justru hidup dari hal-hal kecil: datang lebih awal, menghargai waktu orang lain, tersenyum ketika acara belum siap, lalu ikut menunggang kuda di tengah festival rakyat tanpa terlihat canggung.

Dan di tengah ritme politik serta birokrasi yang sering melelahkan, Kih tampaknya sedang mencoba tetap menjadi dirinya sendiri: bergerak cepat, tetapi tetap membumi.

“Alhamdulillah saya menikmati, Allah SWT juga memberikan sehat yang luar biasa. Semoga bisa terus memberikan manfaat untuk masyarakat Sumenep,” katanya ringan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *