banner 728x250

Hari Fraksi di DPC PKB Sumenep: Dari Urusan Jalan hingga Penyalahgunaan Narkoba

Anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep duduk lesehan bersama warga dan tokoh masyarakat di kantor DPC PKB dalam acara "Hari Fraksi" untuk menyerap aspirasi.
Suasana hangat dan akrab saat anggota Fraksi PKB DPRD Sumenep berdiskusi lesehan dengan warga dalam forum rutin "Hari Fraksi" di kantor DPC PKB Sumenep, Jumat. (Foto: Dok. Istimewa)

SUMENEP, taneyan.id – Langit siang di Kota Sumenep masih menyisakan hawa panas ketika azan Jumat selesai berkumandang. Jarum jam perlahan bergerak menuju pukul 14.00 WIB. Namun suasana di kantor DPC PKB Sumenep siang itu terasa berbeda dari biasanya.

Ruang lobi kantor partai yang sehari-hari lebih banyak diisi lalu-lalang pengurus, kali ini tampak jauh lebih hidup. Sejumlah titik terlihat terisi penuh. Beberapa orang terlihat duduk bercengkerama sambil menyeruput kopi. Sebagian lain tampak membuka percakapan serius tentang jalan rusak, narkoba, hingga persoalan agraria.

Tak ada sekat formal yang kaku. Hari itu, DPC PKB Sumenep kembali menggelar “Hari Fraksi”, sebuah forum rutin yang mulai dibangun Fraksi PKB DPRD Sumenep sebagai ruang komunikasi langsung antara masyarakat dan wakil rakyat.

Di sudut ruangan, para anggota dewan tampak datang satu per satu. Ada Ketua Fraksi PKB DPRD Sumenep Rasidi, Wakil Ketua Komisi II DPRD Sumenep Irwan Hayat, Ketua Komisi III M Muhri, lalu anggota Fraksi PKB lainnya seperti Akhmadi Yasid, Eksan dari Komisi III, hingga Mirza Homaini dari Komisi I.

Ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 14.00 WIB, Rasidi membuka forum secara sederhana namun hangat. Tidak dengan pidato panjang. Tidak pula dengan bahasa formal yang berjarak.

Menurutnya, setiap hari Jumat memang sengaja disediakan sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi.

“Siapa pun boleh datang menyampaikan aspirasi. Ini ruang bersama. Kadang masyarakat punya persoalan tetapi tidak tahu harus bicara ke mana. Hari Fraksi ini ingin menjadi jembatan itu,” ujarnya.

Setelah pembukaan singkat, suasana forum berubah menjadi diskusi ringan namun penuh isi. Aspirasi datang dari berbagai arah. Tidak semuanya bernada keluhan. Sebagian hadir membawa harapan, sebagian lain datang dengan keresahan.

Salah satu yang menyampaikan aspirasi adalah Ketua PAC PKB Lenteng, H Abd Wasik. Dengan nada serius, ia menyoroti kondisi jalan poros Kapedi–Moncek yang disebut rusak parah dan membutuhkan perhatian pemerintah.

Menurutnya, kondisi infrastruktur di wilayah tersebut semakin memprihatinkan karena berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.

Tak hanya itu, ia juga menyinggung persoalan penyalahgunaan narkoba di Kecamatan Lenteng yang dinilai mulai mengkhawatirkan.

“Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Jangan sampai persoalan narkoba merusak generasi muda di Lenteng,” ungkapnya.

Forum siang itu juga menghadirkan sejumlah tokoh dan aktivis. Salah satunya advokat Marlaf Sucipto. Ia menyebut Hari Fraksi sebagai momentum penting karena membuka ruang sinergi antara masyarakat sipil dan parlemen.

Menurutnya, forum seperti itu memberi ruang advokasi yang lebih nyata dan langsung.

Dalam kesempatan tersebut, Marlaf kembali menyampaikan persoalan tanah warga di Tapakerbau, Gresik Putih, yang selama ini terus ia dampingi. Ia menegaskan komitmennya untuk tetap memperjuangkan hak-hak warga.

Selain persoalan agraria, ia juga menyoroti banyaknya kerusakan jalan di jalur Ellak Daya menuju Rubaru yang dinilai membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah.

Diskusi terus berjalan cair. Sejumlah aktivis lain yang hadir turut menyampaikan berbagai persoalan daerah, mulai dari pelayanan publik hingga pembangunan infrastruktur.

Menariknya, forum itu tidak berhenti pada penyampaian aspirasi semata. Satu per satu anggota DPRD yang hadir memberikan tanggapan langsung. Kadang serius, kadang diselingi tawa kecil yang membuat suasana terasa akrab.

Tidak tampak jarak yang terlalu jauh antara rakyat dan wakilnya. Suasananya begitu hangat terasa penuh kekeluargaan.

Di tengah suasana politik yang sering dianggap penuh formalitas, Hari Fraksi di DPC PKB Sumenep mencoba menghadirkan wajah lain politik: lebih sederhana, lebih mendengar, dan lebih membumi.

Sore perlahan turun. Percakapan masih terus berlangsung di lobi kantor partai itu. Sebagian orang mulai berdiri, berjabat tangan, lalu pulang membawa harapan bahwa suara mereka benar-benar didengar.

Dan di ruang sederhana itu, politik tampak tidak selalu harus hadir dalam podium besar dan kalimat-kalimat tinggi. Kadang ia cukup hadir lewat kursi plastik, kopi hangat, dan kesediaan untuk saling. (ahy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *