banner 728x250

Bambang Irianto dan Kenangannya untuk Sumekar

Foto potret Bambang Irianto mengenakan seragam dinas cokelat (ASN) dengan papan nama di dada, sedang duduk dan tersenyum ke arah kamera
Almarhum Bambang Irianto, mantan pejabat eselon II Pemerintah Kabupaten Sumenep yang meninggalkan jejak monumental pada tata kota dan sistem pendidikan digital di Kota Sumekar.

Oleh: Akhmadi Yasid (mantan jurnalis, kini mengabdi di parlemen)

Kabar orang meninggal dunia memang tidak pernah minta izin. Informasinya datang tiba-tiba. Cepat. Selalu begitu.

Ia muncul mendadak, memotong sisa kantuk. Terkadang menabrak kesadaran kita yang masih setengah terjaga.

Menjelang pagi , sebuah nama melintas di layar gawai. Bukan kabar biasa. Bukan pula pesan ringan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tertera jelas: Bambang Irianto telah meninggal dunia.

Kaget. Semua orang kaget. Sebab sehari sebelumnya, nama itu masih terasa dekat. Masih terasa hidup. Masih seperti biasa: tenang, rapi, dan selalu tampak siap mengurus sesuatu.

Bambang Irianto bukan orang sembarangan dalam sejarah birokrasi Pemkab Sumenep. Ia pernah berada di banyak titik penting. Kariernya panjang, berlapis, dan tidak instan.

Dari seorang jupen di Kominfo pada zamannya, lalu bergeser ke DPRD. Dari eselon IV, naik ke eselon III dan II hingga pernah menjadi Plt Sekwan. Gedung DPRD pernah menjadi rumah panjang pengabdiannya.

Setelah itu, ia “dipindahkan nasibnya” ke Disbudparpora. Di sanalah banyak orang mulai melihat sisi lain Bambang. Ia mencoba sesuatu yang tidak populer saat itu: mengawali mimpi besar pariwisata Kota Sumekar.

Ia bicara tentang kawasan terintegrasi, tentang konektivitas destinasi, tentang wajah kota yang harus punya cerita. Banyak yang masih berupa rencana. Banyak pula yang belum sempat diwujudkan.

Belum selesai di sana, ia kembali “ditarik” ke medan berat: Dinas PU Cipta Karya. Di sinilah jejak monumentalnya paling kasatmata.

Kawasan perkantoran Pemkab Sumenep di-face off. Diubah wajahnya. Dirapikan orientasinya. Puncaknya, Taman Adipura dirombak total. Tujuannya agar simetris, serasi, dan berhadapan anggun dengan Masjid Agung.

Menariknya, Bambang bukan lulusan teknik sipil. Bukan pula arsitek. Apalagi ahli tata kota modern.

Tapi ia punya satu keahlian yang sering diremehkan: mengelola orang. Mengorkestrasi tim. Ia tahu kapan harus mendengar, kapan harus memutuskan. Seperti dirigen, ia tidak memegang alat musik, tapi menentukan irama.

Saat dipercaya menjadi Kadisdik, ceritanya berulang. Lagi-lagi bukan ahli di bidangnya. Tapi justru di sanalah ia menonjol.

Terobosan digital school lahir di masanya. Ia menghubungkan guru, teknologi, dan kebijakan dalam satu tarikan napas. Kolaborasi menjadi kata kunci. Sebuah inovasi, yang begitu peka pada zaman.

Belakangan, kesehatannya menurun. Ia tahu itu. Ia sadar batas. Maka ia memilih mengurangi aktivitas. Pelan-pelan mundur dari hiruk-pikuk.

Hingga akhirnya memilih hidup santai di rumahnya di Bangselok. Jauh dari rapat. Jauh dari target. Lebih dekat pada waktu.

Memang benar, semua ada masanya. Ada masa memimpin. Ada masa merancang. Ada masa bekerja tanpa henti. Dan ada masa untuk pulang. Tuhan, rupanya, sudah menyiapkan akhir cerita itu dengan sangat rapi.

Menjelang pagi, kabar itu datang. Mengejutkan. Menyentak. Tapi juga mengingatkan: bahkan orang paling sibuk pun, pada akhirnya, harus berhenti.

Selamat jalan, teman baik.
Jejakmu tertinggal di kota ini. Di taman, di gedung, di sistem, dan di ingatan banyak orang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *